Ujian Nasional ohhh Ujian Nasional

sumber : asfarian.wordpress.com

Hmmm… Bahasan yang ngga ada habisnya untuk dibicarakan, setiap tahun selalu menjadi polemik, ada yang setuju, ada yang tidak, ada yang acuh tak acuh. Bagaimana menurut saudara-saudari…? Mumpung masih anget-angetnya dan bahkan sekarang ini adik-adik kita sedang melaksanakan Ujian Nasional, Yuk kita diskusi disini :-)

Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, Pasal 66 Ayat (1) tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa :

“Penilaian hasil belajar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1) butir c bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuanteknologi dan dilakukan dalam bentuk ujian nasional.”

Sedangkan penjelasan dari ayat tersebut adalah :

“Pasal 66 Ayat (1) : Ujian nasional mengukur kompetensi peserta didik dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan oleh peserta didik, satuan pendidikan, dan/atau program pendidikan.”

Disitu tertera jelas bahwa tujuan diselenggarakannya Ujian Nasional adalah untuk “Mengukur Kompetensi” peserta didik.

Sedangkan menurut Martin E. Susilo di Portal HRM Indonesia :

Kompetensi adalah karakteristik yang dimiliki seorang pekerja atau individu yang membuat dirinya menunjukkan kinerja (performance) sesuai dengan ekpektasi pemberi kerja dan membedakannya dengan pekerja atau individu lain.”

Singkatnya kompetensi adalah karakteristik mendasar yang akan mengakibatkan seseorang mencapai prestasi kerja yang menonjol. Lalu… apakah adil apabila kompetensi seseorang dinilai dari 4 s/d 6 mata pelajaran…???

Saya sebagai pemerhati pendidikan, khususnya SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang notabene mengutamakan “Kompetensi” atau bahasa ngetrend-nya “Life Skill” kok merasa ganjil yach dengan kondisi Ujian Nasional *terutama untuk SMK* yang sekarang ini..? kenapa..? mari kita simak percakapan berikut ini :

Budi : “Pak… denger-denger si Abdee ngga lulus Ujian Nasional ya pak? kok bisa ngga lulus sih pak? berarti dia ngga lulus SMK dong?”

Pak Bronto : “Yahhh… begitulah nak, karena nilai Bahasa Inggris dia kurang, dia cuma dapet 3,85 sedangkan minimal nilai untuk tahun ini adalah 4,00 dan rata-rata harus 5,5″

Budi : “Tapi kan dia Bongkar Mesin, Overhaul, Troubleshooting masalah mobil dan motornya jago banget pak? Uji Kompetensi Produktifnya ada dapet 9,15″

Pak Bronto : “Begitulah nak, peraturan dari BSNP seperti itu”

Budi : “Sayang banget ya pak… padahal yang diperluin setelah dia lulus kan skill nya pak, bukan nilainya”

(Bang Awi yang dari tadi mendengar percakapan itu lantas berkomentar)

Bang Awi : “Yahhh, itulah… makanya saya sendiri ngga setuju kalau Nilai UN itu dijadiin barometer kelulusan anak… Boleh diadakan UN, tapi untuk kelulusan anak bisa dinilai dari multisudut, terutama untuk SMK, seharusnya banyak faktor yang menentukan anak tersebut layak diluluskan atau tidak, salah satunya adalah skill itu tadi”

Budi : “Iya juga ya bang, kan walaupun nilai Bahasa Inggris si Abdee jeblog, tapi begitu dia lulus, dia bisa melanjutkan kehidupan dengan modal Skill nya dibidang Otomotif, malah justru itu yang kepake sekarang”

Bagaimana menurut sedulur-sedulur… mari kita lanjutkan percakapan diatas dengan berdiskusi (evil_grin)

Andri Nawawi | Blogger, SysAdmin, Pembuat Program, Pengajar dan Penuntut Ilmu

3 Kota yang dicintainya : Yogyakarta, Bogor, Depok

9 Responses to Ujian Nasional ohhh Ujian Nasional

  1. FYI : Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Suharsono mengatakan, nilai rata-rata standar kelulusan pada ujian nasional (UN) tahun 2010 minimal harus 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya.

    Khusus untuk SMK nilai ujian praktik kejuruan minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung nilai rata-rata UN. (bigeyes)

    Balas

    Nur Ali Muchtar menanggapi:

    kalo menurut ane gan, yang namanya ujian nasional itu tetap harus ada. tujuannya, untuk melihat secara keseluruhan kualitas pendidikan di negara kita di setiap jenjang setiap tahunnya. tapi -catatan pentingnya-, UN ini tidak harus menjadi standar kelulusan bagi siswa. ia hanya digunakan untuk memantau setiap tahunnya tentang seberapa jauh pendidikan yang sudah dilalui bangsa Indonesia.

    jadi gimana caranya untuk menentukan kelulusan siswa? dengan cara mengakumulasi nilai-nilai yang sudah diperoleh siswa sejak tingkat pertama hingga tingkat akhir plus UN tadi dan juga UAS.hmmm (thinking)

    Balas

  2. (ninja) ane pribadi sih emang gak setuju sama pengadaan UN. Kalo untuk mengukur kompetensi bolehlah, dengan mengesampingkan faktor kecurangan yang mungkin terjadi. tapi kalo untuk menentukan “ending” dari usaha bertahun-tahun di sekolah, susah juga. istilahnya, 3 hari untuk 3 tahun, gak sebanding euy. (scenic)

    Balas

  3. Persyaratan itu kalau untuk siswa SMP, mungkin bisa diterapkan untuk memacu motivasi belajar kejenjang berikutnya. Sedangkan untuk siswa SMA/SMK/SMTA, kelulusan berdasarkan hasil nilai yg dicapai dari kemampuan jurusan yg dipilih.
    Contohnya: siswa SMK Akutansi harus memiliki nilai Akutansi yg mencapai persyaratan

    Balas

  4. masalah UN emang selalu nongol tiap tahun…ane justru lebih kasian sama anak2 yang jujur di luar sana..meskipun udah jadi rahasia umum pelajar Indonesia kerjanya nyontek, tapi masih ada segelintir anak yang berpegang teguh pada usaha sendiri. Dan, ga sedikit dari mereka yg akhirnya ga bisa masuk SMA favorit krn kurang nilai, atau bahkan ga lulus. KETIDAKADILAN di penyelenggaraan UN selalu terjadi..ane yg dulu pernah ngerasain UN dua tahun yang lalu, juga ngerasain banget kecurangan2 itu…sungguh ga adil buat teman2 ane yg akhirnya nilainya terpuruk krn tergeser anak2 yg nilai bagus, tp nyontek.

    Balas

  5. UN masih terus jadi kontroversi hingga sekarang. Yang pro menilai UN sebagai standarisasi kualitas pendidikan nasional, sedangkan yang kontra beralasan infra struktur dan SDM guru yang belum merata di seluruh daerah (goodluck)

    Apa pun itu kita harus mendukung jika itu membawa kebaikan ke dunia pendidikan nasional (rock)

    Untungnya saya nggak ngalamin UN (tongue)

    Balas

  6. Sama kaya Opa Iman
    Kaga pernah ngerasain UN (tongue)

    Tapi menurut gua tujuan sebenarnya dari UN ini bagus kok
    Untuk menentukan suatu standar nilai bagi lulusan SLTA dan diharapkan nilai itu akan terus naik grafik jumlah lulusan dan standar rata2nya..

    hanya salahnya di Indonesia tercinta ini antar sekolah belum memiliki standar yang sama, jadi kalau mau dibikin standar nilai via UN ya kurang pas aja

    menurut gua sih dukung UN dan dukung pen-standaran sekolah-sekolah di Indonesia, maka setiap lulusan SLTA di Indonesia akan memiliki kemampuan yang sama dari sabang sampai merauke :)

    Balas

  7. UN memang dibutuhkan, tapi bukan untuk siswa melainkan pemerintah, supaya bisa menilai dan memperbaiki perkembangan pendidikan Indonesia. Dan kalau maksudnya untuk mengukur kompetensi , seharusnya yang wajib mengikuti UN adalan para mahasiswa/i sebab merekalah yang akan langsung terjun di dunia industri bukan siswa SMA/SMK yang masih jauh perjuangannya. :-)

    Balas

  8. Lha sekolah SD,SMP, SMA kan tempat untuk belajar ilmu umum seperti bhs.inggris, ipa, ips, bhs. indo, matematika, dll. Klo situ emang ga lulus, alias nilainya kecil ya berarti anda memang ga lulus.

    Masalah dia jago ngoprek otomotif atau jago rakit bomb mah itu skill dia yang lain, ga ada urusannya tuh sama sekolah yg targetnya emang belajar ilmu umum dasar.
    Klo SMK karna sekolah kejuruan, ya nilai praktiknya ada kok dimasukin dalam perhitungan kelulusan.

    Coba anda bayangkan kalo anda masuk sekolah musik, trus ternyata kemampuan musik anda itu jelek banget. Masa harus diluluskan juga? apa kata dunia coba? skolah acak kadut asal lulus?

    Yang harus anda protes itu harusnya bukan Standarisasi nilai kelulusannya atau pun Ujian Nasionalnya. Tapi Kompetensi guru dan penyelenggaraan ujian nasionalnya.
    Contoh:
    1. Anda pasti pernah merasa, kok di sekolah sehari-hari ga pernah diajarin nih soal matematikanya tapi tiba2 di UN keluar soal yg casenya tidak pernah diajarkan susah banget. (inilah kesalahan tenaga pendidik yg ilmunya setengah2, ngajarinnya cuma bisa yg cetek doang).
    Klo guru yg jago ilmunya, tiap hari kita belajar plenga-plengo, pas ujian ketawa.
    klo guru cetek ilmunya, tiap hari kita belajar ketawa, pas ujian plenga-plengo.
    Guru sekarang kebanyakan tampang doang sama kelakuan brutal, otaknya kosong.
    Klo gua dulu ketemu guru brutal ditakutin ama siswa justru gua pantengin tuh guru, mo liat tuh brutal karna emang jago, ato brutal karna blo’on kuadrat. Klo brutal karna jago justru gua seneng, karna biasanya klo lu pinter bisa ngerti yg diajarin, lu bisa bebas di kelas… pokoknya lbh banyak istimewanya deh ke elu.

    2. Ujian nasional banyak bocorannya, sehingga hasilnya tidak dapat dipertanggung jawabkan.
    orang kurang pintar dapat bocoran nilainya bisa 9++, yg pinter ga dpt bocoran cuma dapet 8++. Nah lo…. Banyak korupsinya sih, bayar dikit soal-nya langsung bocor kemana2 kayak kran air rusak.

    Balas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:-)) :-) :-D :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (evil_grin) (banana_rock) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (K) (highfive) (LOL) (blush) (taser)