Menjadi Seorang Influencer

Orang berkicau di twitter dibayar jutaan rupiah. Hah, bagaimana ceritanya? Di era industri kreatif inilah hal itu bisa terjadi. Lengkapnya : Bagaimana hal itu berlangsung? Bagaimana permainannya? Ini yang akan saya bahas secara singkat dalam kolom ini. Sebagai pengamat media (online), saya tertarik membahasnya. Siapa tahu, setelah ini Anda menjadi tergerak dan terinspirasi untuk beraktivitas di dunia maya secara lebih serius, fokus dan terarah. Serta membawa hasil tentunya.

Pemandangan terkini, saat ini perusahaan rame-rame memasuki dunia social media (terutama facebook dan twitter). Mereka melakukan semacam pengenalan produk tertentu dengan melakukan interaksi yang menyenangkan dengan khalayak di social media. Mengadakan kuis-kuis atau kontes tertentu atau mengadakan lomba foto dengan obyek brand atau produk tertentu dsb. Intinya, mereka mencoba melakukan kampanye online  dengan metode word of mouth (wom) marketing atau dari mulut ke mulut.

Contoh beberapa brand yang  cukup aktif di dunia social media seperti Soyjoy, Anlene, Oreo, Mizone, Telkomsel, SonyEricsson, Coca Colla dll. Beberapa brand ini cukup menyemarakkan dunia sosial media dengan kampanye yang dilakukannya. Dalam prakteknya, mereka membentuk tim baik dari internal perusahaan maupun sewaan dari luar perusahaan. Tentu, hal ini cukup menarik perhatian para aktivis social media untuk terjun menekuni bisnis baru menjadi semacam pekerja social media. Mereka dibayar untuk mengelola acount brand  tersebut pada social media tertentu (facebook maupun twitter).

Tak hanya itu. Akhir-akhir ini, saya juga melihat begitu maraknya acara-acara semacam konser musik, seminar maupun kampanye politisi (dalam pemilihan anggota dewan, pejabat daerah maupun ketua partai) yang ramai menggunakan social media sebagai ajang sosialisasi dan informasi. Event Java Jazz atau misalnya kampanye Ketua Umum Partai Demokrat baru-baru ini, dalam hal ini kandidat Anas Urbaningrum juga aktif memanfaatkan social media. Nah, siapa pendukung atau orang orang yang berada dibalik layar. Merekalah para pekerja social media. Profesi keren di era industri kreatif sekarang ini.

Saya melihat para pekerja social media yang ada sekarang ini tidak datang begitu saja. Awalnya mereka biasanya dikenal sebagai blogger yang cukup aktif menulis. Dan tulisan-tulisan mereka menarik dan digemari publik. Secara otomotis mereka juga punya pergaulan luas dan dikenal banyak orang di ranah dunia maya. Mereka inilah yang kemudian dikenal aktif di ranah social media dengan “berprofesi” sebagai influencer atau  pemberi pengaruh.

Contoh mereka, para pekerja social media/influencer yang berawal dari blogger misalnya Enda Nasution. Pria yang dikenal sebagai Bapak Blogger ini pernah direkrut perusahaan besar PT Unilever. Tugas utamanya adalah berkicau di twitter mengkampanyekan produk bernama  Vaselinemen. Kicauan yang dilakukannyapun tak melulu serius. Tapi berkesan penuh canda dan akrab seperti  ”Bantuin mencet jerawat dong. Biar bisa nonton bola di Afrika! #vaselinemen.” Apakah Enda mau secara sukarela melakukannya? Tentu tidak. Bayaran jutaan rupiah tentu mengalir ke rekening Enda dengan melakukan aktivitas sebagai influencer tersebut. Itulah gambaran kerja para pegiat social media. Seperti yang juga dilakukan blogger terkenal yang kini juga pegiat social media populer seperti Tika (pengelola blog tikabanget) atau Pitra Satvika (pengelola blog media-ide).

Satu point dasar dalam kolom ini adalah bagaimana sekarang aktivitas  pegiat social media bisa menjadi semacam alternatif profesi. Memang, tak mudah menuju ke sana. Kompetensi bisa menulis secara menarik, menggoda sehingga digemari publik menjadi penting. Karena kadang brand juga memberikan “uang tambahan” bagi blogger sekaligus influencer ketika mereka mereview produk perusahaan yang bersangkutan. Begitu juga kemampuan “membawa diri” menjadi “Pekicau yang menyenangkan” itu perlu dimiliki. Kata kuncinya memang hanya satu. Jam terbang.

Fenomena profesi baru influencer ini memang dikarenakan pesatnya pertumbuhan pengguna social media.  Kini pengguna Twitter di Indonesia mencapai 5,5 juta tweps (sebutan pengguna Twitter atau pekicau). Dua tahun silam masih ratus-an ribu saja. Untuk Asia, Indonesia dinobatkan sebagai pengguna Twitter nomor wahid setelah Jepang (3,5 juta tweps) dan India (2,3 juta tweps). Untuk kategori dunia, Indonesia di urut-an keenam. Pengguna Twitter di dunia telah mencapai 240 juta lebih. Mereka dari berbagai kalangan, mulai pelajar, artis, sampai pejabat negara. (Rudy Prasetyo: Tempo 12 April 2010).

Atas pertimbangan fakta tersebut mau tak mau brand memang perlu untuk memasuki social media, membangun komunikasi yang efektif dengan konsumen atau calon konsumen dengan melibatkan para blogger serta aktivis media social (influencer).  Tak ada asalan bagi perusahaan untuk tidak melibatkan diri di social media. Social media ibarat “tempat berkumpul orang ramai”. Cocok sekali ketika perusahaan menyapa mereka dengan produk-produk andalan. Tentu dengan berpromosi lewat cara-cara interaktif, soft marketing dan saling menguntungkan. Para pegiat social media, tentunya orang yang cocok untuk “mengekskusi” kegiatan tersebut. Berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa referensi dan informasi mulut ke mulut dari seorang influencer  tentang sebuah produk lebih meyakinkan ketimbang iklan statis dan searah.

Untuk menjadi seorang influencer butuh proses. Anda bisa baca kisah-kisah mereka dengan riset kecil-kecilan di internet alias googling. Saya  sendiri punya pengalaman sederhana. Awalnya hobi mereview novel-ovel yang pernah saya baca. Saya publikasikan di milis dan blog. Hasilnya saya pernah direkrut perusahaan penerbitan menjadi publicist sekaligus influencer untuk produk novel-novel mereka. Tugas saya mereview dan memprovokasi orang di milis, facebook atau twitter untuk membeli novel mereka. Bayarannya, lumayan. Sekedar untuk ngopi dan makan enak selama sebulan cukulah he he. Ditambah lagi saya juga dapat novel novel bagus dan gratis.  Gimana? Asyikkan :-)

Ini gambaran singkatnya. Gambaran sederhananya. Saya yakin diluar sana banyak para pegiat social media yang punya strategi masing-masing untuk bisa menggaet klien. Selanjutnya, Anda yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan sebagai seorang  influencer, kira-kira permainannya seperti diatas. Kini saatnya Anda membangun jaringan, berteman dengan “orang-orang yang tepat” dan merubah mindset media social yang sekedar media “hura-hura nggak jelas” menjadi media yang bisa menghasilkan rupiah. Yah, inilah yang namanya bisnis kreatif bos. Siapa suka boleh ikut :-). []

*Yons Achmad. Penulis Lepas. CEO Kanetwork (Konsultan & Riset Media)

4 Responses to Menjadi Seorang Influencer

  1. betul2..
    kreatifitas dan ketekukan, itulah pembeda antara kesuksesan dan kegagalan^^

    baru merintis karir nie.. ;-)

    Balas

  2. Yep, siap mengembangkan sayap menampung rupiah hehehe.. Media internet memang dahsyat! *teringat kejadian negosiasi dengan sponsor miladeBlogger*

    Balas

  3. tengkyu bos tulisannya..
    menarik sekali :-)

    Balas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:-)) :-) :-D :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (evil_grin) (banana_rock) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (K) (highfive) (LOL) (blush) (taser)