INCEPTION : Petualangan Di Lapisan-Lapisan Mimpi
Sabtu kemarin sepertinya adalah hari yang padat buat saya. Setelah seharian mengikuti seminar tentang bisnis online yang deselenggarakan oleh TDA Depok, saya bersama teman-teman deBlogger akhirnya memutuskan untuk nobar film INCEPTION sebagai refreshing
.
Sekitar pukul 15.00 kami berempat (saya, Om Dodi Mulyana, Madam Luvie Melati, dan Opa Bradley Marlissa) segera meluncur ke Margo Platinum XXI. Di sana telah menanti Aksa Malik Syadri untuk ikutan meramaikan pasukan nobar deBlogger kali ini. Selesai Shalat Ashar kami berlima pun memasuki bioskop melalui pintu 3 dengan perasaan berbunga-bunga.
Film ini pada awalnya sempat membuat bingung saya, Eini film apaan sih, kok rumit banget? Banyak istilah-istilah yang terasa asing dalam bahasa sehari-hari, misalnya ekstraksi, totem, inception, labirin… Oalah
Dari bocoran yang saya terima dari seseorang yang tidak bertanggung jawab *melirik Dhodie*, film ini merupakan science fiction yang agak membuat jidat berkerut ketika kita menontonnya. Karenanya saya sudah menyiapkan diri dan mental untuk konsentrasi penuh ketika menontonnya. Setidaknya tidak ada waktu untuk ngobrol, sms-an, isengin bangku sebelah, mampir ke toilet, apalagi untuk tidur
.
Benar, film ini mengalir dengan cepat. Perpindahan dari adegan ke adegan lain dengan situasi yang berbeda-beda sempat membuat bingung dan kehilangan jati diri runutan jalan cerita. Apalagi saya yang memang belum membaca sinopsis ceritanya sama sekali.
Kita dihadapkan pada sesosok bernama Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) yang ternyata adalah seorang ekstraktor. Ekstraktor merupakan sebutan untuk seorang yang berprofesi sebagai “pencuri ide” dari pikiran orang lain. Uniknya proses pencurian ini bukan dilakukan dengan cara mengambilnya dari brankas atau lemari rahasia, bukan juga sebuah data komputer yang diproteksi oleh sandi yang super rumit dan lainnya, inilah uniknya, pencurian ide ini ternyata dilakukan melalui “alam mimpi”.
Dengan teknologi yang “terlihat” sederhana, karena hanya berupa koper dengan tombol dan kabel-kabel, kita dapat memasuki alam mimpi orang lain dengan begitu mudahnya. Tak hanya sekedar menjadi bayangan yang tidak terlihat, di alam mimpi ini kita adalah juga sosok nyata yang dapat berbuat sesuatu di sana. Jadi kita bisa mengacak-acak alam mimpi si empunya. Nah karenanya proses pencurian ide ini pun bisa dilakukan.
Visualisasi ide itu sendiri bisa bermacam-macam, seperti contohnya dalam adegan pencurian ide oleh Cobb terhadap seorang pengusaha Jepang bernama Saito (Ken Watanabe), digambarkan di sana bahwa ide yang hendak dicuri berupa secarik kertas dalam amplop yang disimpan dalam sebuah lemari brankas bersandi.
Misi pencurian ide tadi ternyata gagal dieksekusi oleh Cobb dan timnya, alih-alih mencuri ide dari Saito, Cobb dan tim malah akhirnya berbalik disewa oleh Saito untuk suatu tugas yang agak bertentangan dengan yang selama ini dia dan timnya lakukan, bukan mencuri ide melainkan “menanamkan ide” (inception). Saito menginginkan Cobb dan timnya menanamkan ide kepada pewaris pesaing bisnisnya bahwa ia harus menghancurkan sendiri warisan kerajaan bisnis dari sang ayah.
Teman-teman Cobb menganggap hal ini mustahil dan sulit dilakukan, semula mereka menolak tugas ini, namun Cobb bersikeras menyanggupi proyek Saito ini, Cobb menjamin bahwa proyek ini akan sanggup mereka lakukan. Cobb sangat meyakini hal ini, keyakinan itu begitu kuat. Ada sesuatu yang tertutup rapat di benak Cobb dan teman-teman di timnya tidak mengetahui hal tersebut.
Rahasia Cobb inilah yang mengakibatkan ia selalu dihantui oleh bayangan istrinya yang telah meninggal dalam setiap mimpi-mimpinya. Tiada yang tahu bahwa ide “menanamkan pikiran” (inception) ini telah ia lakukan kepada istrinya sendiri yang akhirnya menjadi korban. Kegilaan Cobb ini bahkan menjadikan ia sebagai tertuduh atas kematian istrinya sendiri. Perasaan penyesalan inilah yang tak pernah lepas menggayuti pikiran Cobb.
Project Saito ini membutuhkan tim yang spesial. Proses perekrutan pun dilakukan Cobb untuk mencari tim yang terbaik. Terpilih seorang arsitek muda nan cantik dan cerdas Ariadne (Ellen Page), seorang ahli penyamar Eames (Tom Hardy), dan ahli kimia Yusuf (Dileep Rao). Tim ini masih bersama dengan Arthur (Joseph Gordon Levitt) yang selama ini setia menemani Cobb dengan project-project pencurian ide.
Sang pewaris, Robert Fischer, Jr (Cillian Murphy) tak disangka memiliki pertahanan alam bawah sadar yang luar biasa tangguh. Cobb dan tim bersama Saito langsung dibombardir pasukan keamanan alam bawah sadar Robert. Peristiwa ini bahkan membuat Saito tertembak. Kenyataannya kini mereka terperangkap dalam bagian pembuangan di alam mimpi Robert.
Awal yang kurang baik ini sempat membuat semangat seluruh tim langsung drop. Ariadne selalu tampil di saat yang genting dengan ide-ide cerdasnya, setidaknya mampu mengembalikan semangat dan harapan seluruh tim. Robert kemudian diyakinkan bahwa ia tengah diculik bersama dengan pamannya. Skenario diatur seolah sang penculik menginginkan nomor pin untuk kotak besi yang berisi warisan bagi Robert.
Sosok Ariadne begitu istimewa dalam film ini. Ide-idenya yang cerdas serta rasa ingin tahunya yang begitu tinggi bahkan berhasil membongkar rahasia terkelam Cobb. Dia banyak memberikan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi tim. Bahkan masalah Cobb dengan bayangan istrinya yang selalu menghantui setiap gerak langkah Cobb.
Ok, kembali ke project. Tim pun mulai bergerak membuat lapisan kedua dari mimpi Robert. Lapisan kedua ini memiliki misi memperkenalkan Cobb sebagai tentara alam bawah sadar milik Robert. Cobb ingin mengalihkan kepercayaan Robert kepada dirinya atas kehadiran tentara sebenarnya milik Robert yang selalu muncul memborbardir mereka.
Untuk misi selanjutnya, dibuatlah lapisan mimpi yang ketiga. Di sinilah diharapkan Robert mampu membuka kotak brankas milik ayahnya yang seolah adalah warisan untuk dirinya. Target kali ini adalah sesuai dengan tujuanĀ utama yaitu ingin menanamkan ide bahwa isi brankas besi tersebut adalah warisan dari sang ayah yang harus dilaksanakan oleh Robert sebagai pewarisnya.
Bermain dalam lapisan-lapisan mimpi membuat film ini sedemikian seru. Begitu banyak detail dan petunjuk ditampilkan baik secara visual maupun verbal dalam setiap adegannya. Karenanya untuk dapat memahami film ini dengan baik agak susah bagi kita untuk bahkan sekedar berkedip *lebay mode*

Visualisasi film ini sangat mendukung jalannya cerita serta memudahkan penonton untuk memahami ide-ide dalam film ini. Sebut saja bagaimana mudahnya sosok Ariadne mengubah arsitektur dalam alam mimpinya sekehendak hatinya. Penggambaran fungsi “totem” (penanda mimpi) yang semula kita abaikan pun disajikan secara lugas namun elegan. Arsitektur mimpi yang dapat dibuat bertingkat sesuai dengan tingkat kedalamannya dalam pikiran pun tergambar jelas dalam bentuk lift dalam adegan ketika Ariadne mencoba lancang memasuki mimpi Cobb.
Sutradara Christopher Nolan lagi-lagi memukau kita dengan pesona sisi gelap sebuah film. Sebelumnya ia telah berhasil dengan “Memento”, “The Prestige”, dan “The Dark Night”.
Sebagaimana The Matrix, di sini kita juga bermain-main dengan alam lain dalam diri kita. Dunia yang sebenarnya ada dalam diri kita. Inception mengingatkan kita bahwa mimpi pun memiliki sebuah kekuatan yang dahsyat, yang mampu mempengaruhi kehidupan sadar kita.
Apakah esok pagi kita terbangun dalam arti yang sesungguhnya dari mimpi kita? Atau kita hanya berpindah dari mimpi lapis terdalam kita menuju ke mimpi lapisan yang lebih luar saja? Yakinkah jika kita memang tengah hidup dalam mimpi kita sendiri bukan mimpi orang lain? Coba lihat “totem” kita untuk meyakinkannya
Apa pun jenis fiksi yang ditampilkan dalam sebuah film, semoga kita selalu bisa menangkap sisi positifnya bagi kehidupan kita. Atau kalau nggak mau susah ya just watch for fun… walau pun sebenarnya sih sayang juga, sebab begitu banyak pesan dan hikmah yang terserak jika kita ingin menguntainya dalam benang pikiran kita.


July 20, 2010 - 6:52 am
film yang sangat-sangat keren..
tapi sayang.. film ini terasa senafas dengan film Leonardo DiCaprio shutter island. terutama pada “gangguan” yang di alami figur cobb disini, mirip dgn “gangguan” yg di alami edward di shutter island, yaitu gangguan dari istri (dan anaknya). begitu pula twist di endingnya..
terlebih karena film Leonardo DiCaprio ini keluar berurutan..
Sorry rada spoiler, komennya..
Balas
July 20, 2010 - 9:16 am
Kyaaa lengkap bangeet! Harus di-disclaimer di atasnya: mengandung spoiler kelas berat!
See? Sampai sekarang,di IMDB dia duduk manis #3 di Top 250 untuk rating terbaik karena seperti Cameron dengan Avatarnya, Nolan pun perlu memendam ide gila tentang “mimpi” ini selama 10 tahun lebih. Hasilnya? it’s a WAW.
Jadi gak rugi kan film ini gue rekomendasiin?
Balas
July 20, 2010 - 2:12 pm
wah acara seminar bisnis onlinenya gimana??? ngebahas apa aja share donk ^_^
Balas
July 20, 2010 - 3:12 pm
Gua mau nanya


yg ngadain nobar siapah? knapa gua ga diajak
pokoknya ngambeg kelas berat
*untung gua dah nonton* :P
Balas
irma menanggapi:
July 21st, 2010 at 1:19 pm
kalo ngajak montok makan tempat…
Balas
July 22, 2010 - 9:28 am
iya ya siapa yang ngadain nobar… kok gw ga diajak :((
anyway ini spoiler kelas berat hahahahaa
Balas