Rabu malam (28/Jul) itu tadinya akan digunakan untuk bersantai-santai di rumah kalau saja undangan itu tidak masuk. Ada event Re-FreSh-ment yang berlangsung di Graha Citra Caraka (Telkom Pusat) di Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Topik yang diangkat adalah Wimax/4G; sebuah fenomena baru yang didengung-dengungkan akan mentranformasi layanan data & internet di Indonesia. Tergelitik dengan topiknya, saya pun melangkahkan kaki ke sana. Maksud hati datang bersama-sama dengan rekan-rekan deBlogger, namun apa daya pada rontok satu per satu *lirik tajam*; akhirnya saya nekat masuk sendirian tanpa mengenal siapa pun di sana. Katanya sih banyak seleblog!! Tapi ya sebodo amat lah sama mereka, sama-sama makan nasi ini *senyum licik*.

Bagi yang belum mengenal apa itu FreSh (perhatikan cara penulisannya), FreSh adalah singkatan dari Freedom of Sharing. FreSh merupakan ajang diskusi, kumpul-kumpul, networking, sharing ilmu antara kita semua yang hidup dalam industri kreatif (definisi diambil dari situs ini). Secara real, FreSh mengadakan forum secara berkala membahas topik-topik menarik. Selain di Jakarta, FreSh juga diadakan di Surabaya dan diharapkan kota-kota lain akan mengadakan event serupa. Setelah sukses dengan event Social Media Day akhir Juni lalu, kali ini FreSh mengangkat topik Wimax/4G. 

Kembali ke Gedung Telkom, acara FreSh molor dari rencana semula pukul 19.00. Ini menjadi catatan bagi penyelenggara acara serupa di masa mendatang agar menyesuaikan dengan jam kemacetan lalu lintas di Jakarta sehingga banyak orang dapat hadir tepat waktu. Ini adalah event FreSh pertama yang saya ikuti jadi saya tidak memiliki referensi pembanding dengan format acara sebelumnya. Namun pada event kali ini, dijadualkan tampil 4 orang pembicara yang akan membawakan presentasi masing-masing selama 20 menit. Mereka adalah Kuncoro Wastuwibowo (IEEE Indonesia), Herwinto Ch (Aktifmob), Arief H. Gunawan (IEEE Indonesia), dan Yasmina Haryono (User Experience Expert).

Sesi 1: Mobilicious Wimax 4G

Sesi pertama dibuka oleh Mas Kuncoro yang menjelaskan mengenai fenomena mobilicious wimax 4G yang mulai bersiap untuk ‘berlari’ di Indonesia. Sesi ini diawali dengan pertanyaan klasik tapi menggelitik: mana yang lebih dulu? Network atau application?! Jelaslah sebelum kita berbicara mengenai aplikasi dan perilaku pengguna, pertama-tama kita harus berbicara mengenai jaringan infrastrukturnya. Mas Kuncoro menjelaskan bahwa era 3G yang kita nikmati sekarang segera akan digantikan dengan era 4G yang salah satu indikatornya adalah kecepatan bergerak 100 Mbps from end-to-end dan 1 Gbps dalam keadaan diam. Mas Kun tampak menghindari penjelasan yang terlalu detail mengenai hal ini demi memberikan kesempatan pada pembicara berikutnya. Hanya satu hal yang penting dicatat yaitu bahwa akses internet yang sekarang secara dominan masih dilakukan dari PC atau laptop akan berubah seiring meningkatnya tuntutan akses internet secara mobile. Demi mengakomodasi kebutuhan ini, maka handheld devices pun akan berevolusi dari yang sekedar smart phones menjadi wise phones.

Sesi 2: Wimaximizing mobility

Sesi ini dibawakan oleh Herwinto Ch dari Aktifmob yang melanjutkan presentasi Mas Kun tentang pengembangan infrastruktur tadi. Kalimat pembuka Mas Herwinto adalah “I don’t care about Wimax, it’s Wimaximizing that matters.” Cukup masuk akal mengingat pembangunan jaringan akan sia-sia tanpa pengembangan konten yang maksimal. Presentasi dilanjutkan dengan pemaparan mengenai gejala-gejala perilaku masyarakat pada era 4G ini yaitu: convergence, ubiquitous, cloud computing, dan social community. Terus terang saya hanya sedikit memahami poin ini, namun saya paham bahwa gejala ini cukup menghadirkan kebutuhan akan jenis-jenis layanan data baru yang bersifat revolusioner. Aktifmob yang bekerja sama dengan Telkomsel membaca gejala-gejala ini dan mengembangkan layanan mobile data dan internetnya sesuai kebutuhan pasar. Sisa presentasi digunakan untuk mengiklankan berbagai inovasi yang telah dilakukan oleh Aktifmob. OK, next…

Sesi 3: It’s LTE time

Mas Arief H. Gunawan dari IEEE Indonesia menyoroti transformasi dunia seluler mulai dari 2G, 3G, hingga4G. Terus terang isi presentasi yang ini tidak banyak berbeda dari sesi pertama jadi tidak banyak yang saya catat. Mas Arief hanya menyoroti penamaan istilah menurut pasar yang sedikit berbeda dengan istilah teknologinya, seperti 2G yang dibahasakan sebagai GSM, HSDPA/HSUPA yang dikenal sebagai 3G, dan LTE yang merupakan evolusi dari HSPA namun dikenal oleh pasar dengan nama 4G; plus varian-varian lain dalam teknologi CDMA yang juga disebutkan sambil-lalu. Lalu disebut juga beberapa pencapaian Indonesia seperti pengguna FB terbesar kedua di dunia, tercepat di dunia dalam beradaptasi dengan mobile internet, model prabayar BB pertama di dunia, dsb.

Sesi 4: Participatory Panopticon

Call me a fool, tapi saya memang agak subjektif-positif dalam mengamati pembicara yang terakhir ini. Pertama-tama, meski Yasmina Haryono adalah orang Indonesia, ia lama tinggal di Jerman dan lebih fasih berbahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia sehingga presentasinya 90% dilakukan dalam Bahasa Inggris. Kedua, tampak jelas bahwa presentasinya bukan hanya bersifat pemaparan melainkan online behavior evangelism; ada gairah yang luar biasa ketika ia membagikan pemikirannya. Yasmina menyebut dirinya interactivity designer, internet user researcher, dan beberapa identitas lain yang mencerminkan latar belakangnya sebagai world citizen. Presentasi dibuka dengan pernyataan bahwa kita sekarang hidup di masa-masa menarik, yakni participatory panopticon. Kita bukan lagi passive users melainkan sudah menjadi active agents. Komparasi sederhana pada kedua istilah ini saja sebenarnya sudah cukup mencerminkan apa yang ingin Yasmina katakan, yaitu bahwa kita berperan aktif dalam mengubah dunia. Pemikiran dan perilaku masyarakat berevolusi mengikuti model berikut: data – information – knowledge – wisdom. Porsi manusia sebagai agen perubahan aktif bertambah besar mengikuti urutan fase tersebut.

Pada bagian selanjutnya, Yasmina mulai menyoroti keunikan perilaku masyarakat Indonesia dalam berkomunikasi secara mobile dan juga di internet. Misalnya saja ada banyak orang tua di Indonesia membukakan akun FB untuk anak mereka yang masih berusia 2 tahun; sementara di Jerman, remaja berusia 13 tahun masih dilarang orang tuanya mempunyai akun FB dengan alasan belum cukup umur. Orang Indonesia ternyata mempunyai pengertian berbeda mengenai identitas online dan sejauh mana sebuah privasi dapat di-release ke dunia maya. Lalu disoroti juga perilaku transaksi finansial yang cenderung menghindari pembayaran online dan lebih memilih mentransfer via ATM. Karakter lainnya adalah price sensitive; kalau ada layanan gratis, buat apa menggunakan layanan berbayar?

Bagian terakhir presentasi ini justru seperti antiklimaks dari sesi-sesi sebelumnya. Yasmina justru mengajukan pertanyaan seberapa cepat sih kecepatan internet mau dibuat?! Apakah akan ada batas kecepatan teknologi dan siapa yang menetapkan batas itu?! Ingin secepat apa video streaming kita jalankan kalau toh kita tidak akan menggunakannya selama 24 jam. Lalu pesan singkat kepada para pembuat konten data: jangan mendesain semuanya; sesuaikan dengan kultur setempat. Akhirnya Yasmina menutup presentasinya dengan kalimat yang membuka pikiran saya: 4G/wimax will only be a bullet point in a marketer’s presentation. Maksudnya adalah: 4G/Wimax bukan segalanya.

Refleksi Akhir

Perkembangan teknologi berevolusi sedemikian cepatnya sehingga sebuah inovasi akan menjadi basi besok pagi oleh karena akan ada inovasi lain yang mengalahkannya. Teknologi yang berkembang akan semakin memudahkan pekerjaan manusia dan akan selalu disambut baik. Namun demikian, manusia tetap memiliki dua tangan, dua kaki, dua mata, satu mulut dan satu telinga. Kebutuhan dasar manusia akan hal-hal jasmani dan rohani sebenarnya tetap tidak berubah dan tidak akan pernah berubah. Teknologi yang revolusioner pada akhirnya akan ditinggalkan juga ketika kita kembali ke rumah di malam hari dan bertemu dengan orang-orang yang kita cintai. Dan ketika itu kita akan berkata: ini sudah cukup.

Re-FreSh-ment yang awalnya ogah-ogahan saya datangi, ternyata membuka kedua sisi otak saya. Siapkah Anda mengalami petualangan yang sama? Tunggu forum selanjutnya.

Tulisan ini juga tersedia di blog pribadi saya.

1 Comment for this entry

  • Iman

    Wah Om Brad ikutan FreSh toh? (woot) Membaca review ini saya merinding, kok ya komplit amat ya (tongue)

    Ada satu kalimat yang bikin saya penasaran :

    “… maka handheld devices pun akan berevolusi dari yang sekedar smart phones menjadi wise phones.”

    Nah ini maksudnya wisephone itu apa yam om? Thanks before.

    Salu dengan reviewnya (applause)

    Balas

    bradley menanggapi:

    Hmm, istilah wise phones itu sebenarnya berawal dari imajinasi Mas Kuncoro sendiri. Kalau di era 3G ini telepon kita sudah smart, di era berikutnya akan berevolusi menjadi apa? Harapannya adalah menjadi wise, misalnya kita memasukkan input isi bensin dan nantinya si HP akan mengingatkan kapan kita harus isi bensin lagi, dimana SPBU terdekat, dsb. Memang menggantung sih jawaban akhirnya, tapi justru itu yang membuat exciting :D

    Balas

Leave a Reply

:-)) :-) :-D :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (K) (highfive) (LOL) (blush) (taser)