Gus ‘Fatulah’ Dur – Kisah Usang Manusia Sederhana

Pantai Lasiana, Kupang

KULITNYA hitam legam, tidak terawat. Kaos yang dipakainya pun sepertinya jarang dicuci. Menenteng tas kecil, yang juga kumal. Anehnya, dia selalu

tersenyum, memamerkan deretan giginya yang tak bisa juga disebut putih. Bahasa Indonesianya juga belepotan. “Gus Dur,” ujar lelaki “kumuh” dihadapan penulis sembari mengulurkan tangannya, ramah.

Bukan, dia bukan Gus Dur mantan Presiden RI yang tergusur itu. Meski sama-sama cuek, tapi jelas, Gus Dur “kumuh” ini tak seberuntung [almarhum] Gus Dur yang di Ciganjur itu. Nama aslinya Mohammad Fatulah. Entah mengapa dia dipangil Gus Dur, yang tidak ada mirip-miripnya dengan sosok dihadapan penulis ini. Dia muslim. Menurut pengakuannya, ayahnya orang Jawa Tengah– mantan tentara yang tugas di Timor Timur (ketika masih jadi wilayah Indonesia). Sementara sang ibu, asli Tim-Tim. Rupanya, cerita cinta tentara dan penduduk lokal bukan isapan jempol, Fatulah saksinya.

Gus Dur tergusur karena konflik di Tim-Tim. Dia terlempar dari tanah kelahirannya dan menjadi pengungsi di Kupang, NTT. Lelaki yang pernah tinggal di panti asuhan ini sekarang tinggal di barak-barak pengungsi dekat sebuah terminal di Kupang.

Pertemuan kami terjadi tidak sengaja. Usai “pesiar” (istilah di NTT untuk jalan-jalan) di Pelabuhan Tenao, penulis nekat ke Pantai Lasiana, satu tempat yang kabarnya indah. Nekat, karena penulis sama sekali tidak tahu kemana dan dimana Pantai Lasiana itu.

Ketika naik angkutan umum, penulis mencoba bertanya kepada sopir. “Mau be (saya –red) antar antara sa? tanya sopir menawarkan diri untuk mengantar. “Berapa?” tanya penulis. Sopir pun menyebut nominal, yang di Jakarta pun terasa mahal (maklum, logat penulis jelas berbeda dengan penduduk lokal).

“Tidak usah sewa oto (mobil –red), nanti be antar. Terlalu mahal itu,” celetuk laki-laki yang belakangan tahu bernama Gus Dur itu. Sopit melotot ke Gus Dur. Sayang, Gus Dur ternyata bukan orang yang langsung mengkeret hanya dengan pelototan mata.

Di arah masuk Pantai Lasiana, Gus Dur ikut turun. “Mari beta antar,” ucapnya. Penulis tertegun, sampai lupa bertanya kemana tujuan dia sebenarnya. Dia mengantar sampai ke pinggir pantai, melewat panti asuhan tempat dimana dia tinggal dulu. Panti Asuhan itu ternyata ada di depan Pantai Lasiana ini.

“Baik. Karena dong (Anda –red) sudah sampai, be pamit pergi,” ujar Gus Dur sopan. Astaga, Gus Dur menolak pemberian beberapa lembar puluhan ribu sekedar ucapan terimakasih. “Dong sudah selamat sampai sini, tugas saya selesai. Tapi jangan paksa be untuk terima uang ini,“ucap Gus Dur menolak.

Gus Dur memilih foto bersama penulis daripada menerima uang (dia minta ijin ganti celana panjang, supaya bagus difoto katanya). Dan Gus Dur pergi, sambil tersenyum, setelah memberi alamatnya di barak pengungsi.

Gus Dur seperti “menampar” muka kita. Dia begitu jujur, polos, dan apa adanya. Tanpa pamrih. Dia bukan orang yang kaya harta. Dia punya luka batin, tercabut dari peradabannya sendiri. Tapi Gus Dur masih bisa tersenyum, tulus. Dia memilih membantu orang lain yang tersesat daripada mengurus dirinya sendiri.

Adakah jiwa kita seperti Gus Dur? Kita masih sering pilih-pilih untuk memberikan pertolongan kepada orang. Berharap pamrih. Apalagi membantu orang kecil yang jelas-jelas tidak memberikan keuntungan buat kita. Tapi Gus Dur alias Fatulah tadi, tiba-tiba menjadi manusia revolusioner yang membuka mata. Dia menjadi “saksi” yang tidak perlu dipuji karena kata-katanya indah. Dia menjadi saksi dengan perbuatan. Dan penulis yakin, Gus Dur berdarah Timtim itu tidak peduli ada pujian atau tidak untuknya.

[suatu siang di Pantai Lasiana, Kupang....]

==

Sumber gambar: nusacendanabiz (added by admin)

7 Responses to Gus ‘Fatulah’ Dur – Kisah Usang Manusia Sederhana

  1. kisahnya sederhana namun menggugah. saya sekaligus terkenang lagi akan keindahan Pantai Lasiana. Makasih sharingnya ya bro :)

    Balas

  2. bro indobrad, thanks dah baca…iya, pantaia itu indah, meski belum terawat dengan baik.

    Balas

  3. Bagus ceritanya,
    Begitu pula tokoh yang diceritakan,
    so inspiring for me. . .
    thks =)

    Balas

  4. @bro Dy, makasih ya komennya. semoga benar2 bisa memberi inspirasi…salam kenal!

    Balas

  5. sangat menggugah, saya senang bisa hidup di Nusantara ini. Apalagi jika ada manusia yang seperti itu. Mudah-mudahan yang lain mengikuti.

    Balas

  6. Awal membaca, melihat pantai di foto itu sambil sarapan mangut lele. Jadi teringat masa kecil, habis berenang trus makan bareng keluarga. Pengalaman yang mungkin tak bisa dialami ‘Gus Dur’, jadi merasa harus lebih bersyukur lagi. (tears)
    Usai mambaca habis tulisan Pak Tyo, cukup ‘menampar’ saya (idiot) … makasih sudah diingatkan.

    Balas

  7. Mas Bro Abu Faqih,

    Makasih Sudah Mampir dan membaca tulisan saya. Saya senndiri sampe sekarang sering malu sendiri kalau baca cerita itu, karena ternyata tidak mudah menjadi manusi tanpa pamrih begitu. Meskipun dalam konteks sederhana sekalipun.

    Makasih

    Balas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:-)) :-) :-D :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (evil_grin) (banana_rock) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (K) (highfive) (LOL) (blush) (taser)