Puasa, Kolak, Taraweh & Selebrasi Maaf
JUJUR, ketika kecil dulu, saya adalah “pemuja” puasa. Bagaimana tidak, dalam kacamata kanak-kanak saya, ngariyung bersama teman menunggu waktu berbuka, adalah saat yang paling mengesankan. Belum lagi ketika bedug maghrib berbunyi, tajil beraneka ragam sudah menanti. Kami tertawa, ketika kemudian hidangan tadi tandas dalam sekejab. Bukan menahan lapar dan haus-nya memang, tapi momen berbuka itulah yang selalu menarik.
Saya ingat, nyaris semua kawan saya selalu mengajak main ke rumahnya setiap hampir berbuka. Mereka tidak peduli, apakah saya berpuasa, pura-pura puasa, atau sebenarnya memang tidak puasa. Pokoknya kebersamaan itu begitu lekat. Dan saya pun dengan polosnya selalu menerima ajakan itu. Alhasil, setiap hari nyaris berkelling ke rumah kawan, untuk menikmati kolak, kacang ijo, es buah, korma, dan kemudian menyantap ayam goreng dengan nasinya.
Kemudian saya ‘nekat’ berangkat taraweh. Nekat, karena saya tidak pernah tahu doanya seperti apa. Nekat karena bukan pemilik sholat dalam segala bentuknya. Nekat, karena pasti akan muncul pertanyaan heran dari setiap orang yang kenal, “Loh kok kamu ke masjid juga?”
Oh iya, saya memang lahir bukan dari keluarga muslim. Tapi saya paham betul soal puasa, karena ayah saya sering puasa Senin – Kamis [yang sampai sekarang saya masih bingung, kenapa harus Senin dan Kamis, mengapa tidak Rabu – Minggu misalnya]. Mama saya juga seorang religius yang [ternyata] punya ritual berpuasa [dan hebatnya, dalam setahun bisa beberapa kali puasa selama 40 hari].
Kembali ke Taraweh tadi. Saya selalu memilih tempat paling belakang, karena bisa cepat pulang [dan bisa ngawasin sandal jepit yang nyaris semua sama bentuk dan warnanya, biar nggak ketukar]. Dan saya suka dengan keramaian masjid ketika taraweh. Hidup sekali. Tapi sekali lagi saya bilang, saya tidak tahu arti apapun dari bahasa Arab-nya. Tapi cuek saja, karena pemahaman saya ketika itu, mosok ya Tuhan nggak ngerrti kalau saya pakai bahasa Indonesia.
Kolak juga menu “wajib” ketika Ramadhan. Entah sejak kapan kolak menempati tempat ‘terhormat’ ini, tapi saya juga menikmatinya. Yah, kalau tidak Ramadhan, agak sulit juga menemukan menu manis yang satu ini.
Sampai akhirnya muncul sebuah pertanyaan, sejatinya siapa pemilik puasa ini? Apakah puasa ini hanya milik golongan, ras, atau agama tertentu? Ternyata tidak. Puasa ada di semua kepercayaan dan agama yang ada di muka bumi ini. Masing-masing dengan itikad, penjelasan, dan hakikat yang berbeda. Sama-sama menyenangkan, karena tujuannya juga bagus semua kok.
Hal lain yang mengiringi awal puasa adalah maaf-maafan. Yah, saya sih melihatnya banyak yang hanya selebrasi saja sih. Persoalan tulus atau tidak, bukan urusan saya. Selebrasi maaf ini makin kesini makin dominan. Hmm, ya tidak salah juga. Karena setiap ucapan maaf yang keluar menjadi harapan untuk menjalan ibadah dengan lebih tenang, bersih dan ikhlas. Terlepas itu diucapkan dengan tulus atau basa-basi.
Saya kembali merindukan puasa pluralis masa kecil dulu….
*selamat berpuasa, selamat taraweh, selamat menikmati kolak dan menemukan [ketulusan] selebrasi maaf tahunan

August 25, 2010 - 5:54 pm
Sambil nunggu buka,ayo dukung 100 comment antar blogger sekarang juga !
Balas
August 26, 2010 - 11:41 am
Selamat mnunaikan ibadah puasa
Balas
August 27, 2010 - 12:49 am
untuk yang komen, terimakasih sudah mampir ke tulisan yang sederhana ini…salam..
Balas