#akberdepok05: Menulis Buku? Berani?
Tergesa-gesa saya memasuki ruangan di Sabtu (14/01) pagi yang basah itu setelah sebelumnya kelimpungan mencari letak Buku Kafe yang nyempil di antara ruko-ruko lain di sepanjang Jalan Margonda. Ah, saya tak mampu membaca perkembangan Depok yang cepat sehingga jalan yang dulu sangat diakrabi kini tampak asing.
Hari itu Akademi Berbagi Depok mengadakan kelasnya yang kelima yang bertema “How to Write a Book in 30 Days” yang diajar oleh Ollie alias Salsabeela. Blogger yang sudah akrab dengan dunia penulisan online pastinya ingin agar tulisannya semakin dibaca orang dan menjadi bermanfaat bagi banyak kalangan, baik penggiat online maupun offline. Namun nyatanya tidak terlalu banyak blogger yang berani melangkah ke dunia offline dengan berbagai alasan. Di sinilah saya menemukan tantangan.
Ollie memulai pemaparannya dengan menceritakan awal mulanya ia menulis buku dan blog. Ia menyebut blog sebagai journal of reaction, yang berarti berisi tanggapan terhadap peristiwa tertentu atau apa saja yang bersifat personal bagi si blogger. Sedangkan dunia penulisan buku diibaratkan sebagai journal of expertise, karena selain diharapkan kita membagikan pemikiran secara bebas, kita juga dituntut untuk patuh pada kaidah penulisan buku yang baik serta mempertanggungjawabkan isi tulisan sesuai bidang keahlian yang dimiliki. Dari beberapa contoh buku yang ditampilkan Ollie, perempuan berjilbab yang telah menelurkan 20 buku tersebut menceritakan proses penulisan beberapa bukunya yang bervariatif mulai dari 1 tahun sampai yang hanya diselesaikan dalam waktu 5 hari. Sebuah langkah yang tidak mudah karena membutuhkan disiplin diri yang ketat selain proses penulisan yang mesti efisien. Dalam sesi tersebut Ollie membagikan beberapa langkah dasar agar kita dapat menulis dalam waktu 30 hari saja. Berikut tips-tipsnya:
Hari 1: Tentukan Target
Target harus dibuat dengan spesifik, misalnya 300 halaman. Lalu kecepatan menulis per harinya mesti berapa halaman, dst. Lalu langkah terpenting di hari ini adalah membuat outline buku dengan cara pemetaan.
Hari 2-28: Mulailah menulis
Hari 2-28: Ciptakan rutinitas
Hari 2-28: Banyaklah membaca
Gunanya adalah untuk mendapatkan inspirasi dan pemicu ide.
Hari 2-28: Tulis saja, jangan pedulikan pengeditan
Teknik free writing dilakukan di sini, yakni menulis terus-menerus tanpa peduli dengan kesalahan ejaan atau ide.
Hari 2-28: Lakukan riset seperlunya
Poin terpentingnya adalah jangan terpaku pada satu ide yang perlu diriset; lanjutkan saja menulis dan riset dapat dilakukan belakangan.
Hari 2-28: Beritahu perkembanganmu pada orang lain
Hari 29: Proofreading dan penyuntingan
Ollie memberi tips 3+2, yakni naskah kita diberikan pada 3 orang teman yang mendukung dan 2 orang yang akan membantai naskah tersebut. Gunanya adalah untuk mendapatkan kritik membangun dari banyak sisi, selain tentunya menerima masukan dari editor.
Hari 30: Kirimkan naskah dan berpestalah!
Ollie dengan terus-terang mengakui bahwa tips-tips di atas bukanlah hal baru dan banyak tips lain yang mungkin lebih manjur bagi penulis / calon penulis. Namun kesan yang paling kuat saya tangkap adalah bahwa proses penulisan juga membutuhkan disiplin; bukan hanya sekadar menulis di saat inspirasi sedang bermain. Kelas pun ditutup dengan tantangan kepada para peserta untuk menyelesaikan buku mereka dalam waktu 30 hari. Sambutannya sangat meriah; ada yang yakin akan menyelesaikan menulis dalam sebulan, ada yang mengulur hingga beberapa bulan, dan ada yang mengaku belum siap. Tak mengapa.
Tentang Akademi Berbagi Depok
Dikutip dari profilnya, Akademi Berbagi adalah sebuah gerakan nirlaba yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan, wawasan, dan pengalaman yang diaplikasikan langsung sehingg para peserta bisa meningkatkan kompetensi di bidang yang telah dipilihnya. Akademi Berbagi, atau yang lebih lazim disebut Akber, berjalan dengan sistem swadaya tanpa sponsor dan tanpa melibatkan uang. Kelas-kelas diadakan di lokasi yang didonasikan oleh pemilik tempat atau pihak lain; pengajar, pengurus, dan relawan tidak dibayar, dan para peserta juga tidak dipungut bayaran. Mulai dilirik sebagai sarana pendidikan ‘alternatif’ bagi orang -orang yang ingin menimba ilmu bermanfaat dari pakar di bidangnya, Akber terus melebarkan sayapnya ke lebih dari 20 kota di Indonesia.
Sedangkan Akademi Berbagi Depok sendiri adalah kepanjangan tangan dari Akber Jakarta yang didirikan untuk menjawab kebutuhan para peserta yang tinggal di Depok dan ingin menimba ilmu yang sama namun terkendala teknis seperti jarak dan waktu. Akhirnya pada tanggal 7 Mei 2011, Akademi Berbagi membuka kelas pertamanya di Depok dengan tema Social Media for Social Movement dan diisi empat pengajar sekaligus. Sempat vakum beberapa bulan, Akber Depok kembali muncul di bulan November-Desember 2011 hingga sekarang telah mengadakan kelas kelima. Seterusnya di tahun 2012 ini, Akber Depok berencana menggelar kelas rutin tiap 2 minggu sekali dengan tema yang berbeda-beda sesuai kebutuhan. Jadwal kelas yang umumnya diadakan pada tengah minggu di Jakarta, digeser menjadi akhir pekan di Depok dengan pertimbangan lebih banyak waktu untuk mendatangkan peserta dan guru pada waktu-waktu akhir pekan. Akber Depok utamanya menargetkan untuk memberi pendidikan alternatif bagi para mahasiswa seputar berbagai kampus serta warga masyarakat lain yang tertarik. Semua kelas digelar secara gratis. Dengan Danny Brahmantyo sebagai Kepala Sekolah dan sekitar 4-5 relawan, Akber Depok terus membawa semangat berbagi, karena berbagi itu bikin happy!



January 17, 2012 - 11:38 am
wah, terimakasih atas ulasannya kakak
knowledge is power..
let’s share
semangat!
Balas
Pingback: Geliat #KomunitasDepok | indobrad.web.id
January 19, 2012 - 5:31 pm
Wah, acaranya bagus banget… sangat bermanfaat sebagai modal buat menulis buku. Sayangnya gak punya waktu untuk ikutan nih…
Balas
January 20, 2012 - 3:37 pm
Mudah2an bisa datang di akber2 lainnya.. amin! era sharing ini benar2 membuat kita merasa saling membutuhkan dan saling menghargai! Salut!
Balas