<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>deBlogger &#187; STORY</title>
	<atom:link href="http://deblogger.org/category/story/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://deblogger.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 08:20:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Jackie Millar &#8212; Dewi Tanpa Sayap</title>
		<link>http://deblogger.org/2011/04/17/jackie-millar-dewi-tanpa-sayap/</link>
		<comments>http://deblogger.org/2011/04/17/jackie-millar-dewi-tanpa-sayap/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 18:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko moernantyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[malaikat]]></category>
		<category><![CDATA[sayap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deblogger.org/?p=1147</guid>
		<description><![CDATA[BAGAIMANA rasanya kehilangan waktu bersama orang yang kita cintai? Waktu bermain, sharing, bercengkerama dan apapun yang biasa dilakukan bersama. Pedih dan menangis mungkin. Apalagi kalau waktu itu hilang karena perbuatan kriminal yang tidak pernah kita duga. Suatu pagi yang cerah, penulis menemukan satu kisah kehilangan itu. Oprah Show di salah satu televisi swasta &#8220;menemukan&#8221; seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">BAGAIMANA rasanya kehilangan waktu bersama orang yang kita cintai? Waktu  bermain, sharing, bercengkerama dan apapun yang biasa dilakukan  bersama. Pedih dan menangis mungkin. Apalagi kalau waktu itu hilang  karena perbuatan kriminal yang tidak pernah kita duga.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu pagi yang cerah, penulis menemukan satu kisah kehilangan itu.  Oprah Show di salah satu televisi swasta &#8220;menemukan&#8221; seorang perempuan,  seorang ibu dan seorang single parent bernama Jackie Millar, sebagai  bintang tamu. Buat penulis, dia seperti &#8220;malaikat&#8221; berwujud manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sedang meninap di rumah kawannya, dua remaja berandalan bernama  Craig dan Joss yang awalnya berniat mencuri mobilnya, menembak kepala  Jackie dari jarak dekat, setelah sebelumnya kepalanya ditutup dengan  bantal. Jackie yang penggemar fotografi itu, tidak tewas, tapi  benar-benar harus memulai hidupnya dari nol.</p>
<p style="text-align: justify;">Jackie lumpuh sebelah, harus belajar menelan, mengunyah dan sensor  motoriknya agak terganggu yang membuatnya harus bicara pelan-pelan. Satu  yang pasti, mujizat itu ada ketika Jackie bisa bertahan hidup sampai  usianya sekarang [ketika ditembak umurnya sekitar 45 tahun, dan kini 57  tahunan].</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan kisah itu sebenarnya yang luarbiasa. Dua tahun setelah menjadi  &#8220;normal&#8221; lagi, Jackie melakukan hal yang mengejutkan. Dia mengunjungi  penembaknya yang dipenjara. &#8220;Aku terkejut dan takut, karena merasa dia  akan memamki dan menendangku, hal yang memang menjadi haknya,&#8217; kata  Craig, yang ikut diwawancara lewat telekonference video dari penjara.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata tidak, meski ketika ditemui tidak berani menatap dan hanya  menunduk, Craig &#8216;salah prediksi&#8217; tentang sikap Jackie. Ibu dua anak itu  memeluknya, memegang tangannya dan memaafkan semua yang pernah dilakukan  Craig kepadanya. &#8220;Aku seperti punya masa depan lagi ketika Jackie  memaafkan akud dengan tulus,&#8221; kata Craig lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yup. Jackie memang memaafkan. Malah seperti kata Chad, anak sulungnya,  ketika siuman dari penembakan itu, hal pertama yang dilakukannya adalah  memberikan maaf kepada penembaknya. &#8220;Aku seperti melihat anakku sendiri  membuat pengakuan telah melakukan hal buruk,&#8221; kata Jackie ketika ditanya  sikapnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu karya yang luarbiasa bukan? Memaafkan orang yang nyaris  membunuhnya. Pendapat Jackie sederhana, ketika kita memendam rada marah  dan dendam kepada seseorang, sebenarnya kita menyimpan racun yang  &#8216;membunuh&#8217; diri kita pelan-pelan. &#8220;Saya harus melanjutkan hidup dan yang  saya lakukan adalah memaafkan dia,&#8221; ucap Jackie yang juga menjadi buta  akibat penembakan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan kamu, saya dan kita? Jujur saja, saya pun kadang-kadang  memilih menyimpan &#8216;racun&#8217; dalam diri saya, sulit untuk memaafkan orang  yang menyakiti dan membuat saya sebal. Bahkan keyakinan yang saya anut  pun jelas-jelas mengatakan, &#8216;kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau  mengasihi dirimu sendiri&#8217; tapi tetap saja keukeuh menyimpan &#8216;racun&#8217; itu.  Tapi Jackie Millar membuat saya malu. Dia dengan cepat memaafkan  penembaknya dan merasa hidupnya makin tenteram.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak hal yang membuat kita buta, meski kita melihat. Tapi Jackie  melihat dengan terang, justru ketika menjadi buta. Meminjam apa yang  dikatakan Mahatma Gandhi, &#8220;orang suci&#8221; dari India, <em>&#8220;Orang lemah tak  pernah bisa memaafkan, karena mengucapkan kata maaf adalah atribut orang  kuat!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-1232" href="http://deblogger.org/2011/04/17/jackie-millar-dewi-tanpa-sayap/millar_restorjustice10_5387/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1232" title="Millar_RestorJustice10_5387" src="http://deblogger.org/wp-content/uploads/2011/03/jm-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><br />
</em></p>
Djoko Moernantyo
FB :  denmas josi
TW:  jokoisme
YM :  warak_ngendog
Blog:
- moer.multiply.com
- loveofkikoku.blogspot.com
- baladaatmo.blogspot.com]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deblogger.org/2011/04/17/jackie-millar-dewi-tanpa-sayap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bunga Milik Ibu</title>
		<link>http://deblogger.org/2011/03/21/bunga-milik-ibu/</link>
		<comments>http://deblogger.org/2011/03/21/bunga-milik-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 04:17:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pria Biru</dc:creator>
				<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih Ibu Sepanjang Masa]]></category>
		<category><![CDATA[My Story]]></category>
		<category><![CDATA[True Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deblogger.org/?p=1137</guid>
		<description><![CDATA[Sejak Bapak pensiun 4 tahun yang lalu, ibu menjadi punya banyak waktu untuk mengurus tanaman kesukaannya, bunga. Bermacam jenis bunga yang dipelihara ibu ada dipekarangan rumah sekarang. Dulu yang aku tahu ibu suka sekali dengan bunga mawar, melati dan anggrek, sehingga sampai saat ini aku tahu sekali bagaimana cara merawat ketiga jenis bunga itu, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://priabiru.blogs.friendster.com/my_blog/images/dsc01488.JPG" alt="Dsc01488" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak Bapak pensiun 4 tahun yang lalu, ibu menjadi punya banyak waktu untuk mengurus tanaman kesukaannya, bunga. Bermacam jenis bunga yang dipelihara ibu ada dipekarangan rumah sekarang. Dulu yang aku tahu ibu suka sekali dengan bunga mawar, melati dan anggrek, sehingga sampai saat ini aku tahu sekali bagaimana cara merawat ketiga jenis bunga itu, karena aku juga suka membantunya merawat bunga sebelum berangkat ke sekolah. Dari ketiga bunga yang disebutkan diatas, aku lebih menyukai anggrek. Bagiku bunga ini gak neko-neko, dalam artian, dia tidak perlu menebar aroma harum yang menyengat seperti melati demi memanggil kumbang, namun keharuman itu tak bertahan lama atau tak perlu menebar pesona secara membabi buta laksana mawar namun disisi lain menawarkan ancaman yang mengerikan. Anggrek bagiku adalah bunga yang tumbuh dengan kesederhanaannya, tak perlu media tanah yang kaya akan nutrisi atau mineral dari humus, cukup dalam media serabut atau arang bahkan pasir.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi beberapa tahun sekarang ini semakin banyak tanaman yang  dari jenis dan harganya  bikin kita cukup tercengang, tapi syukurlah ibu tak tertarik dengan bunga-bunga aneh yang tak punya  daya tarik tapi memiliki harga selangit yang sekarang banyak dipasarkan orang-orang dengan iming-iming  khasiat dan kegunaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sekian banyak tanaman hias yang dimiliki ibu, ibu aku sangat menyukai kamboja jepang yang dibonsai, aku gak ngerti kenapa juga orang jepang mau nge-bonsai pohon yang bagi kebanyakan orang Indonesia adalah tanaman dari jenis hantu-hantuan alias pohon milik orang yang sudah mati. Bahkan saya sempat lihat ada pohon yang sangat dikramatkan di Indonesia juga di bonsai, pohon beringin. Bapak dulu sempat memilikinya, tapi aku gak tega dengan pohon beringin yang kata penjualnya telah berusia 7 tahun tapi tetap gak bisa tinggi. dalam media pot kecil dan kabel menjulur disetiap rantingnyalah yang membuat pohon itu tak bisa lebih tinggi dari 30 Cm. Waktu itu hati nuraniku tersayat, pohon itu tetaplah makhluk hidup, tapi dikebiri paksa hingga menderita. Makanya suatu saat aku mencurinya dari Bapak, pohon itu aku bawa kesekolah diam-diam tanpa diketahui bapak, aku lepaskan kabel-kabel yang ada disetiap rantingnya, aku tanam dia ditanah yang luas ditempat tersembunyi agar bisa tumbuh sebagaimana mestinya tanpa diganggu. Bapak bingung bukan kapalang, kemana pohon beringin bonsai kesayangannya itu. Aku pura-pura ikut prihatin atas hilangnya pohon milik Bapak.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak terasa waktu sudah berjalan dua setengah tahun sejak pohon itu aku pindahkan ke kebun sekolah, hingga sampai aku lulus pohon itu sudah menjadi setinggi kurang lebih satu meter dengan daun yang hijau dan segar. Waktu Bapak mengembil raport kelulusanku, Bapak sempat melirik ke pohon beringin tersebut, sambil berucap…”wah…nanti kalau pohon itu sudah besar, pasti sekolahanmu akan jadi teduh deh Her…” Aku hanya diam, tapi setidaknya bapak tak tahu kalau itu adalah pohon beringinnya yang mulai berubah wujud ke alam yang lebih sempurna. Aku menganggap ini adalah salam perpisahan antara saya, bapak dan pohon beringinnya untuk selama-lamanya. Aku cukup senang bapak sudah bisa melihat beringinnya untuk yang terakhir kali meski dia tidak tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai suatu saat, ketika aku kembali ke sekolah SMA ku untuk melegalisir STTB dan NEM, aku menyempatkan diri untuk melihat kembali pohon beringin yang aku tanam dulu, tapi ternyata pohon itu sudah tak ada. Ketika aku tanya pada Pak Maman penjaga sekolah yang tinggal disitu, katanya pohon itu sudah dipindah ke lapangan bola diluar sekolah, dan ternyata memang betul, pohon itu masih tetap berdiri, dan mungkin hingga sampai kini, karena sejak 14 tahun yang lalu, aku tak pernah lagi datang ke sekolah SMA ku. semoga saja pohon itu bisa meneduhi orang-orang yang beristirahat setelah bemain bola.</p>
<p style="text-align: justify;">sekarang adalagi pohon kamboja bonsai milik ibu, apakah nasibnya akan sama seperti pohon beringin bonsai milik bapak  ? sepertinya tidak, aku tahu betul ibu sangat menyayangi pohon ini, begitu bangganya ibu bercerita padaku jika ada orang yang memuji bunganya. Aku tak tega menyakiti perasaan ibu bila pohon kamboja bonsai itu menjadi tidak bonsai lagi, lagipula ibu adalah orang yang harus aku dahulukan dalam segala hal, makanya aku jamin tragedi pohon beringin bonsai tak akan terjadi pada pohon kamboja bonsai. Bapak, maafkan aku. Ibu aku menyayangimu.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deblogger.org/2011/03/21/bunga-milik-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Depok 1978</title>
		<link>http://deblogger.org/2011/03/16/depok-1978/</link>
		<comments>http://deblogger.org/2011/03/16/depok-1978/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 10:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pria Biru</dc:creator>
				<category><![CDATA[STORY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deblogger.org/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Depok di tahun 1978, tahun dimana untuk pertama kalinya aku diajak Bapakku untuk melihat calon rumah kami di Perumnas Depok II Tengah yang rencananya akan kami tempati tahun depan. Kala itu usiaku genap 6 tahun, masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak di kawasan elite Menteng Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Tegal 10, sekarang lebih dikenal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Depok di tahun 1978, tahun dimana untuk pertama kalinya aku diajak Bapakku untuk melihat calon rumah kami di Perumnas Depok II Tengah yang rencananya akan kami tempati tahun depan. Kala itu usiaku genap 6 tahun, masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak di kawasan elite Menteng Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Tegal 10, sekarang lebih dikenal dengan SD Menteng 02 pagi Del Peru. Perjalanan kami mulai dengan menaiki kereta api ke arah bogor, meski pada saat itu kereta rel listrik (KRL) sudah ada dan masih sangat nyaman untuk para penumpang, tapi Bapakku memilih naik kereta api diesel buatan Jerman dengan lokomotif berwarna hijau. Yang aku tahu orang sering menyebutnya kereta langsam. Penumpangnya adalah para buruh, petani atau pedagang. Kereta itupun juga sangat nyaman, meski bangkunya hanya terbuat dari rajutan kayu rotan, tapi kami bisa memilih duduk bebas dimana kami mau. Kereta ini bermasalah dengan panjang gerbongnya, biasanya KRL terdiri dari hanya delapan gerbong, tapi kereta langsam ini kadang terdiri dari sepuluh hingga dua belas gerbong, sebagai permakluman bahwa kereta ini menjadi alat transportasi yang efesien bagi penumpang yang berasal dari daerah Sukabumi dan Bogor yang hendak menjual hasil ladang atau peternakanya ka Jakarta. Sehingga terkadang bila berhenti di satu stasiun gerbong paling akhir masih menghalangi jalan diperlintasan kereta api, terutama di stasiun Depok Baru. Apalagi saat itu jalur kereta api Jakarta Bogor hanya ada satu jalur saja, sehingga harus dipakai secara bergantian. Satu lagi, naik kereta ini kami bisa tidak dikenakan tiket, alias gratis. Mungkin itu yang di inginkan Bapakku, naik kereta gratis dari Jakarta ke Depok. Walau terkadang masih ada masinis yang menagih tiket tapi itu jarang sekali. Satu persatu stasiun kami lalui, sepanjang perjalanan yang kami lihat hanya kebun atau tanah lapang yang sepi dan tak terurus, masih banyak terdapat kebun jambu batu atau yang dikenal dengan jambu klutuk dan pohon rambutan dengan buah yang lebat, kadang ada beberapa gembala kerbau, kambing atau sapi di sana. Maklum saja tahun 1978 sepanjang Jakarta Bogor masih belum terlihat pembangunan seperti sekarang, tapi jujur, kondisinya aku pikir malah lebih baik dari sekarang. Didalam kereta yang kami temui hanyalah beberapa pedagang asongan yang menjajakan makanan khas daerahnya, misalnya di stasiun Pasar Minggu akan ada pedagang buah atau asinan/manisan jambu air manis yang dibungkus plastik atau es buah pepaya yang dibekukan. Mungkin sekarang kita tidak akan menemukan jenis jajanan seperti itu lagi di kereta api yang sekarang. Harganya juga cukup murah, dengan Rp. 25,- kami bisa mendapatkan dua bungkus manisan jambu air, lalu dengan Rp. 30,- kami bisa membeli dua gelas tuak, air manis dari perasan nira yang didinginkan dengan es didalam sebuah tabung bambu yang besar. Hmmm&#8230;.rasanya segar sekali, sekarang kalo kita mencari pedagang itu rasanya sampai kita botak tujuh kali gak akan bisa menemukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampai distasiun Depok, aku merasa bahwa tempat ini primitif sekali, suasananya sungguh-sungguh asri, bahasa yang digunakan masih menggunakan bahasa Sunda Bogor. Stasiunnya sudah sangat kuno, dengan jam dinding bulat besar yang menempel tepat dipintu masuk stasiun. Inilah adalah salah satu stasiun kereta api buatan Belanda yang masih beridiri hingga akhir 1985. Bapakku mengajak aku untuk mampir dulu di warung Tauge rebus, tepat disamping stasiun. Disitu juga terdapat warung gado-gado, toko dodol Depok, serabi, tahu Bogor dan macam-macam lagi. Dikedai tauge rebus itu terdapat tulisan &#8220;Tauge rebus oncom bumbu tauco asli Bogor&#8221; (aku terus saja mengingat tulisan itu sampai berkali-kali, mungkin karena saat itu aku belum pandai membaca). Dan baru kali itu juga saya tahu seperti apa bentuk dan rasanya, karena baru pertama makan makanan yang berbumbu tauco aku merasa agak mual, aku tahu harga seporsinya saat itu Rp. 25,- sangat murah, berisi tauge, oncom, mie kuning, tahu dan krupuk tanpa rasa berwarna merah dengan bumbu pasta racikan tauco dan apalah namanya. Sekarang sudah jarang yang berjualan seperti itu lagi. Makanan jenis itu sudah hilang dan kalah pamor dan gengsi oleh makanan-makanan cepat saji atau malah oleh makanan gorengan yang sekarang semakin banyak beredar.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai makan kami mencari angkutan yang menuju Perumnas Depok II. Saat itu jarang sekali angkot seperti sekarang, yang banyak bertebaran adalah kendaraan jenis oplet atau austin dan delman. Oplet yang pernah saya tahu adalah kendaraan yang sebagian besar body-nya terbuat dari kayu dengan jendela terbuat dari terpal atau plastik, dengan kursi penumpang sejajar kiri kanan seperti angkot sekarang. Sedangkan Austin berukuran lebih besar dengan kursi penumpang menghadap kedepan, mirip dengan angkutan luar kota Bogor-Sukabumi, mungkin kalo sekarang kita mengenal dengan jenis Mitsubishi L-300. Untuk naik kendaraan itu kita harus sabar menunggu sampai penuh, padahal saat itu bisa dihitung berapa penumpang yang mau naik mobil, rata-rata mereka lebih suka berjalan kaki, dimana situasi udara dan cuaca Depok tahun itu masih bisa dibilang sejuk, bahkan untuk ukuran kami yang dari Jakarta udara Depok pukul 11.00 WIB siang masih terasa dingin, sungguh. Nikmat sekali. Pohon-pohon beringin, bambu, rambutan, angsana dan beragam jenis pohon buah masih banyak bertebaran meneduhi sepanjang jalan Margonda dan Tole iskandar. Bahkan bila melalui jalan Tole iskandar menuju Perumnas, kita akan disuguhi pemandangan yang teduh, dimana banyak pohon bambu yang tebal dan rimbun saling bersentuhan antara kedua sisi jalan, sehingga seakan-akan kita memasuki goa saja layaknya. Terlebih ketika akan melewati jembatan panus, jalan yang meliuk-liuk turun naik terasa mengasyikan. Sungai ciliwung saat itu masih terlihat bening, banyak orang yang memanfaatkannya untuk mencuci dan mandi. Suatu saat aku akan ceritakan nikmatnya mandi dikali ciliwung di tahun 1979. Karena Bapak tidak mau terlalu lama menunggu kami sepakat untuk naik delman saja, tawar menawar harga terjadi dan bapak setuju dengan ongkos Rp. 125,- sampai tujuan, itu dikarenakan hanya kami saja yang menaiki delman itu, padahal bila normal delman itu bisa mengangkut 6 orang penumpang. Saya sangat menikmati perjalanan dengan delman, terlebih ketika jalan menurun dan berkelok-kelok, sepanjang jalan banyak bertaburan buah rambutan, kecapi, buah buni (buah ini sekarang sangat sulit ditemukan atau bahkan mungkin sudah punah) atau bahkan buah nangka yang dibiarkan matang membusuk dipohonnya karena tak ada yang memetik, sayang sekali. Saya berteriak-teriak gembira ketika delman melintasi jembatan panus (Jembatan yang dibuat pada masa kolonial Belanda) dimana disungai ciliwung saya melihat anak-anak dan para orang tua beraktifitas dengan kegiatannya. Harmonisasi kehidupan pedesaan sangat terasa, damai sekali hatiku saat itu. Sepanjang perjalanan Bapak dan kusir saling bertukar cerita, akrab sekali, sedangkan aku tak bisa diam, sesekali tanganku mencoba meraih buah rambutan masak yang menjulur kejalan, dan ketika melewati &#8220;gua&#8221; pohon bambu aku merangsek kepelukkan Bapak, takut sekali, suara serangga dan desiran angin yang menerpa daun bambu seakan menciptakan suasana horor, sepi, dingin dan menyeramkan. Kusir delman hanya tersenyum saja. Oya saat itu masih banyak kerbau, sapi, kambing dan bebek yang di gembalakan sepanjang pinggir jalan, aku jadi takjub, mungkin karena di Jakarta tak ada pemandangan seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika memasuki jalan Sentosa Raya, saya mulai melihat banyak perumahan baru yang berjajar rapi sepanjang mata memandang, jalannya rata dan halus dengan aspal yang hitam mengkilap namun disini terasa gersang, itu mungkin karena pohon yang ditebangi dalam masa pembangunan belum lagi tumbuh. Hanya ilalang dan semak berduri yang banyak tumbuh di halaman rumah yang belum ditempati. Masih terdapat beberapa rumah asli penduduk Depok yang tak terkena proyek pembangunan, di setiap rumah aku melihat pasti ada satu ekor kuda dan gerobaknya. BapaK bilang bahwa saat itu penduduk Depok banyak yang bekerja sebagai kusir delman atau petani dan peternak ayam atau kambing. Ooo..begitu rupanya, pantas saja banyak sekali aku temui kuda di Depok saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang jalan saya selalu bertanya pada Bapak apa tulisan-tulisan yang ada ditiang-tiang sepanjang jalan sentosa Raya, Bapak menjelaskan bahwa itu adalah nama jalan yang menandai di setiap gang jalan, ada nama jalan Flamboyan, Jalan Beringin, jalan Waru, Jalan Merdeka Raya, Jalan Serimpi, Jalan Dadap dan lain-lainnya. Rumah kami di jalan Pajaga I dan harus memasuki jalan Raya Angin Mamiri terlebih dahulu untuk sampai kesana. Saat itu pertama kali saya melihat calon rumah baru kami yang akan kami tempati hingga sampai saat ini. Rumah sederhana dengan tembok dari batu bata putih, halaman tanpa pagar, dua buah jendela kaca dengan ventilasi udara yang sangat sederhana terbuat dari kayu, beratap asbes putih, berlantai semen tanpa keramik dua pintu dan satu rumah dibagi dua. Selokan pembuangan air yang kecil di depan rumah rapi menjulur dari ujung ke ujung gang yang bermuara pada selokan berukuran lebih besar. Tumbuhan semak berduri tumbuh tak beraturan, demikian juga dengan ilalang yang menutupi pekarangan rumahku. Belum ada kabel listrik dan belum ada saluran air. Banyak terdapat serangga yang sebelumnya belum pernah saya lihat di Jakarta, ada belalang sembah yang di Jakarta disebut dengan cangcorang (sekarang saya tahu ternyata jurus andalan yang di pakai Bruce lee berasal dari makhluk hijau bermata belo bertangan panjang dan kurus tapi mengerikan ini), Ada sarang burung gereja dengan beberapa butir telur diatas ventilasi udara rumah kami saat itu, aku menangis dan memohon pada Bapak untuk mengambilkannya, namun Bapak menolak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kami puas melihat-lihat situasi perumahan yang masih baru itu, Bapak mengajakku pulang. Tentu saja saya senang sekali, karena saat itu aku sudah mencapai taraf &#8220;bosan&#8221; yang luar biasa, karena sepi dan terasa panas disiang hari. Selama hampir 3 jam disana kami hanya menemui pedagang es cincau saja yang ada, itu belum cukup untuk menutupi rasa lapar yang mendera perutku. Kami pulang dengan berjalan kaki menuju jalan Angin Mamiri, disana mungkin akan ada kendaraan oplet atau austin yang lewat untuk menuju stasiun Depok Lama, meski aku berharap bahwa aku lebih senang jika pulang dengan naik delman lagi. Hampir sejam kami menunggu di pinggir jalan Sentosa Raya yang panas dan berdebu sampai kemudian datang kendaraan yang dimaksud. Belum lima menit didalam kendaraan aku tertidur pulas di pelukkan Bapak, mungkin rasa lelah yang mendera menjadikan aku cepat sekali tertidur, terlebih lagi oplet berjalan sangat lambat dengan desir angin sepoi-sepoi dari jendela terpalnya yang terbuka menambah kantukku kian menjadi. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi sampai aku tersadar ketika mendengar pluit kereta api yang akan membawaku kembali ke Jakarta, di dalam keretapu aku tetap tertidur, pulas membawa mimpi atas sungai ciliwung, buah rambutan. seramnya pohon bambu, cangcorang dan telur burung gereja yang sampai saat ini tak pernah aku miliki.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deblogger.org/2011/03/16/depok-1978/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Cinta Kumbang &amp; Perempuan Berkacamata itu</title>
		<link>http://deblogger.org/2011/02/07/cerita-cinta-kumbang-perempuan-berkacamata-itu/</link>
		<comments>http://deblogger.org/2011/02/07/cerita-cinta-kumbang-perempuan-berkacamata-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Feb 2011 19:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko moernantyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[kacamata]]></category>
		<category><![CDATA[kumbang]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deblogger.org/?p=1072</guid>
		<description><![CDATA[HARI INI, hujan begitu derasnya. Menetesi setiap sudut terbuka. Meski telah reda, tapi aroma tanah yang tersiram itu begitu menggoda. Harum, khas hujan. Sosok perempuan berkacamata itu, dengan jaket tebal ungunya, memilih berjalan-jalan merasakan angin basah itu. Dengan amat detil dia berjalan melewati kebun buahnya. Tidak ada orang di sekitarnya, karena perempuan itu memang ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">HARI INI, hujan begitu derasnya. Menetesi setiap sudut terbuka. Meski telah reda, tapi aroma tanah yang tersiram itu begitu menggoda. Harum, khas hujan. Sosok perempuan berkacamata itu, dengan jaket tebal ungunya, memilih berjalan-jalan merasakan angin basah itu. Dengan amat detil dia berjalan melewati kebun buahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada orang di sekitarnya, karena perempuan itu memang ingin sendiri. Berjalan perlahan melintasi buah demi buah yang mulai matang. Tangannya menyibak tetesan air di dedaunan. Dia berhenti sejenak dan menutup mati. “Ah, betapa menyenangkan tetesan air ini. Sejuk dan menyegarkan,” ucapnya dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia melangkahkan kakinya ke arah palungan air. Dan berjalan di bawah naungan pohon jacaranda yang tumbuh di kebunnya. Daunnya kuyub, beberapa bunganya berguguran. Tapi indahnya tak tersesat.</p>
<p style="text-align: justify;">++</p>
<p style="text-align: justify;">Perempuan berkacamata itu, adalah perempuan terindah yang pernah Tuhan ciptakan. Aku –si kumbang—selalu terpesona melihatnya di kebun itu. Gambaran dirinya membuat aku enggan terbang jauh dan pindah ke kebun lainnya. Rambutnya tidak terlalu panjang, sebahu. Hitam dan menyenangkan dilihat. Harumnya membuat aku ingin terbang di sebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulitnya lembut dan putih, ditopang kakinya yang jenjang. Tubuhnya tidak terlalu gemuk, kombinasi utuh dari keindahan dan keseimbangan. Jangankan aku si kumbang, kupu-kupu yang jadi teman terbangku pun, memilih hinggap di bunga saat dia melintas, memberikan senyumannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesekali aku melihat bertelanjang kaki, merasakan tanah lembut diinjaknya. Meski ternyata, dia tak selalu menikmati ketelanjangan kakinya. “Geli ama binatang kecil-kecil,” elaknya pada Mawar, teman yang sering diajaknya melintas bunga dan buah.</p>
<p style="text-align: justify;">+++</p>
<p style="text-align: justify;">Dan setiap dia tak berjalan di kebun ini, aku merasa terbangku tak ada gunanya. Agak menggelikan, karena kumbang tiba-tiba jatuh cinta kepada manusia. Tapi bukankah cinta adalah hak semua makhluk?</p>
<p style="text-align: justify;">+++</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang terjadi kemudian, perempuan berkacamata itu sendiri tak bisa menebaknya. Semua menggambarkan kemurungan dan mendemonstrasikan hasrat yang tidak pernah dia sendiri tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebun itu memberinya ruang untuk berkomtemplasi. Memberinya udara untuk berefleksi. Buah-buah matang itu selalu tersenyum kepadanya dan membuatnya menyanyi riang bersama embun yang dihelanya. Bahkan ketika mendung pun, perempuan berkacamata itu memilih kebun ini sebagai tempatnya berteduh.</p>
<p style="text-align: justify;">+++</p>
<p style="text-align: justify;">Buat aku, si kumbang yang  menikmati terbang di kebun ini, perempuan berkacamata itu memberikan wangi dan memancarkan kecantikan yang khusus. Secara kontemporer, cantiknya hangat. Dan sering aku membayangkan terbang seiring di sebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">+++</p>
<p style="text-align: justify;">Dan gerimis kecil yang merintih, bernyanyi:<br />
Bulan purnama melayang tepat di atas kaki langit, dia membayang dengan sudut yang amat tajam, Sehingga cahayanya yang bergelombang merentang di sepanjang lebar danau. Tapi, bulan memberi cahaya yang dingin…</p>
<p style="text-align: justify;">Di seberang danau, pepohonan pinus yang menjulang, Kayu keras yang telanjang, tak bergerak. Sementara malam terasa kaku, diam dan tak berangin.</p>
<p style="text-align: justify;">Gemintangnya seperti sketsa dari India. Pada langit yang telah berubah menjadi musim dingin. Kecantikanmu sederhana dan hangat. Kejujuranmu selalu melewati taraf menyakitkan. Mencintaimu tak sekadar esoteric, tapi eklectika. Dan biarkan cinta itu tetap bersenandung</p>
<p style="text-align: justify;">+++</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Perempuan berkacamata, kembali di kebun itu dan duduk sendirian….</em></p>
Djoko Moernantyo
FB :  denmas josi
TW:  jokoisme
YM :  warak_ngendog
Blog:
- moer.multiply.com
- loveofkikoku.blogspot.com
- baladaatmo.blogspot.com]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deblogger.org/2011/02/07/cerita-cinta-kumbang-perempuan-berkacamata-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buang RACUN ARSENIK Hatimu</title>
		<link>http://deblogger.org/2011/02/01/buang-racun-arsenik-hatimu/</link>
		<comments>http://deblogger.org/2011/02/01/buang-racun-arsenik-hatimu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 08:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko moernantyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[arsenik]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[racun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deblogger.org/?p=1070</guid>
		<description><![CDATA[INI kisah nyata tentang seorang perempuan tuna netra. Sebut saja namanya Diana. Dia adalah ibu dari delapan orang anak. Bukan orang kaya, biasa saja. Miskin? Secara materi mungkin agak tertatih, tapi Diana punya “kekayaan” lain yang lebih dibanding perempuan lain. Apa itu? Diana ditinggalkan suaminya –bukan diceraikan—ketika melahirkan anak bungsunya. Sang suami terpikat perempuan lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">INI kisah nyata tentang seorang perempuan tuna netra. Sebut saja namanya Diana. Dia adalah ibu dari delapan orang anak. Bukan orang kaya, biasa saja. Miskin? Secara materi mungkin agak tertatih, tapi Diana punya “kekayaan” lain yang lebih dibanding perempuan lain. Apa itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Diana ditinggalkan suaminya –bukan diceraikan—ketika melahirkan anak bungsunya. Sang suami terpikat perempuan lain dan membuat Diana harus jungkir-balik menafkahi anak-anaknya yang mulai beranjak besar. Tidak semua dirawatnya, karena dengan keterbatasan fisiknya, Diana tentu saja “kerepotan” mengurus delapan orang anak. Beberapa anaknya “terpaksa” dirawat orang lain, tapi seperti pengakuannya: sebenarnya, hati seorang ibu tak pernah rela anaknya berpisah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian untuk menopang hidupnya, Diana mengambil kursus pijat sampai akhirnya bekerja di salah satu panti pijat khusus tuna netra. Dan itulah yang member harga diri sebagai seorang ibu. Tak pernah mengeluh hingga kemudian anak-anaknya dewasa dan berhasil mandiri.  Kisah hidupnya berakhir, ketika Diana meninggal karena sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu pertanyaan yang selalu dijawabnya dengan ringan dan tulus, apakah Diana merasa sakit hati dengan perlakuan suaminya?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Saya memaafkan dia, dari pertama dia menyakiti saya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em></em>Kisah Diana, dari kasat mata tampaknya bicara soal ‘kelemahan’ perempuan. Kalau sudut pandang itu yang Anda tangkap, maaf Anda salah.  Diana bicara soal keteguhan, pengampunan, ketulusan dan mengasihi. Bukan soal mudah memilih berada di sisi ini, karena dia adalah perempuan yang tersakiti. Biasanya, manusia akan langsung melawan atau menghujat dengan cara apapun, ketika dirinya tersaikiti yang amat sangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibarat angin, Diana adalah kesejukan yang membawa keluarganya melintasi badai. Dia melewati jurang, dan selamat sampai di ujung. Dia mengakhiri “pertandingannya” dan berhasil mencapai garis finish.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang Anda dapat dari ilustrasi Diana ini? Ketika kita tersakiti, secara manusia pasti terluka. Saat kita membawa luka itu berkepanjangan, kita sebenarnya membawa racun dari dalam hidup kita. Dendam itu arsenic –racun yang membunuh pelan-pelan dalam tubuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengampuni, memaafkan, atau melupakan kesakitan itu ‘nyaris’ tidak mungkin. Tapi Diana bisa melakukannya saat dengan tulus membuang “racun” dari pertama kali terluka.  Beranikah Anda ambil keberanian itu?</p>
Djoko Moernantyo
FB :  denmas josi
TW:  jokoisme
YM :  warak_ngendog
Blog:
- moer.multiply.com
- loveofkikoku.blogspot.com
- baladaatmo.blogspot.com]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deblogger.org/2011/02/01/buang-racun-arsenik-hatimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspresikan Kasih Sayang</title>
		<link>http://deblogger.org/2010/09/24/ekspresikan-kasih-sayang/</link>
		<comments>http://deblogger.org/2010/09/24/ekspresikan-kasih-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Sep 2010 13:42:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gajah_pesing</dc:creator>
				<category><![CDATA[STORY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deblogger.org/?p=958</guid>
		<description><![CDATA[Sesuai dengan tema diatas, Ekspresikan Kasih Sayang Agar Tidak Stress. Mari kita bicara terapi menurunkan stress dalam hubungan suatu pasangan. Dalam penelitian di Universitas Brigham Young di Salt Lake City (Utah-USA), menerbitkan jurnal Psychosomatic Medicine, yang menyebutkan bahwa terapi meng-ekpresikan Kasih Sayang dengan sentuhan sangat besar dampaknya terhadap penurunan stress pasangan (suami-istri). Selama tes, sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Sesuai dengan tema diatas, <a title="Ekspresi Kasih Sayang" href="http://deblogger.org/2010/09/24/ekspresikan-kasih-sayang/" target="_self">Ekspresikan Kasih Sayang</a> Agar Tidak Stress. Mari kita bicara terapi menurunkan stress dalam hubungan suatu pasangan. Dalam penelitian di <strong>Universitas Brigham Young di Salt Lake City</strong> (Utah-USA), menerbitkan jurnal <strong>Psychosomatic Medicine</strong>, yang menyebutkan bahwa terapi meng-ekpresikan <a title="Ekspresi Kasih Sayang" href="../2010/09/24/ekspresikan-kasih-sayang/" target="_self">Kasih Sayang</a> dengan sentuhan sangat besar dampaknya terhadap penurunan stress pasangan (suami-istri).<span id="more-958"></span></p>
<p style="text-align: justify">Selama tes, sang pimpinan riset (<em><strong>Dr Juliane Holt-Lunstad</strong></em>) dan rekan-rekannya, mengukur perubahan dua bahan kimia yang ada didalam tubuh manusia.</p>
<ol style="text-align: justify">
<li><strong>Hormon Oxytocin</strong> yang disebut sebagai <em>Hormon Cinta</em>, terkait dengan peningkatan rasa kasih sayang terhadap pasangan.</li>
<li><strong>Alfa Amilase</strong> yang disebut <em>Hormon Stress</em>, berkaitan dengan ketika seseorang tenggelam dalam permasalahan dengan pasangan atau lingkungannya. Hormon ini biasanya terindikasi dalam kondisi air liur yang semakin kental.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify"><a href="http://gajahpesing.web.id/" target="_blank"><img class="alignright" style="margin: 1px" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs631.snc4/59130_1508869676390_1073786677_31453327_2350058_n.jpg" alt="" width="250" /></a>Ketika seseorang saling menunjukkan kasih sayang dengan sentuhan, maka <strong>Hormon Oxytocin</strong> makin bertambah dan <strong>Alfa Amilase</strong> makin berkurang. Dalam terapi sentuhan ini tidak selalu ada hubungannya dengan kegiatan seksual. Sentuhan yang menunjukkan empati, pegangan tangan, belaian rambut, dekapan, membaringkan kepala di pangkuan, kegiatan-kegiatan seperti itulah yang menurut Dr Julianne, sangat besar perannya dalam menurunkan stress.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam penelitian itu, 36 pasangan menikah dipisahkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diajarkan untuk lebih sering membiasakan memberi sentuhan dan berpelukan. Selama tes, kelompok pertama diminta untuk terus memberikan perhatian lebih kepada pasangan mereka, menghibur dan memberikan sentuhan-sentuhan sayang. Sedangkan kelompok kedua diminta tidak untuk mengubah perilaku rutin mereka.</p>
<p style="text-align: justify">Ternyata setelah empat minggu, kelompok pertama mengalami penurunan <strong>Hormon Alfa Amilase</strong>, yang artinya stress pada pasangan tersebut sangat menurun. <strong>Hormon Oxytocin</strong> meningkat drastis melebihi kelompok kedua.</p>
<p style="text-align: justify">Coba kita perhatikan kepada rumah tangga <strong>Rasulullah</strong>. Urusan mengungkapkan kasih sayang dengan sentuh menyentuh itu, silahkan belajar kepada <strong>Rasulullah</strong>. Kita sering mendengar riwayat, dimana <strong>Rasulullah</strong> sering bermanja-manja tidur di pangkuan <strong>Aisyah</strong>, padahal <strong>Aisyah</strong> waktu itu sedang haid. Ya! Barangkali itu sebagian kecil rahasia rumah tangga beliau menjadi indah dan bebas stress.</p>
<p style="text-align: justify">Sekarang, bagaimana dengan kita? Sudahkah setiap hari mengungkapkan kasih sayang dengan sentuhan-sentuhan romantis? Kadangkala kita lupa terhadap urusan yang sangat sepele ini.</p>
<p style="text-align: center"><strong><em>Wallahu A&#8217;lam Bishhowab</em></strong></p>
<p style="text-align: justify">nb: dari berbagai sumber dan ini adalah postingan saia yang terakhir, sampai jumpa&#8230;  <img src='http://deblogger.org/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/wave.gif' alt='(highfive)' class='wp-smiley' /> </p>
..:: gajahpesing® is the wong ganteng ::..]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deblogger.org/2010/09/24/ekspresikan-kasih-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Warga Baru Depok</title>
		<link>http://deblogger.org/2010/09/23/menjadi-warga-baru-depok/</link>
		<comments>http://deblogger.org/2010/09/23/menjadi-warga-baru-depok/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Sep 2010 10:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu faqih</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[sosial kemasyarakatan]]></category>
		<category><![CDATA[warga baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deblogger.org/?p=937</guid>
		<description><![CDATA[Kurang lebih setahun saya menjadi warga baru Kota Depok, tepatnya Kelurahan Beji. Saya beserta keluarga pindah H-2 Lebaran 1430H, atau malam terakhir sholat tarawih Ramadhan tahun kemarin. Alhamdulillah, sekarang saya sudah tinggal di rumah saya sendiri alias tidak menjadi pengontrak lagi. Mencari rumah tinggal idaman Sedikit cerita tentang pengalaman saya mencari rumah untuk tempat tinggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kurang lebih setahun saya menjadi warga baru Kota Depok, tepatnya Kelurahan Beji. Saya beserta keluarga pindah H-2 Lebaran 1430H, atau malam terakhir sholat tarawih Ramadhan tahun kemarin. Alhamdulillah, sekarang saya sudah tinggal di rumah saya sendiri alias tidak menjadi pengontrak lagi.</p>
<p><strong>Mencari rumah tinggal idaman</strong></p>
<p>Sedikit cerita tentang pengalaman saya mencari rumah untuk tempat tinggal permanen kami. Saya menjadi pengontrak sejak sebelum menikah sehingga mempunyai dua orang anak, kurang lebih 8 tahun lamanya. Kami sekeluarga berpindah-pindah rumah kontrakan 3 kali atau berarti menempati 4 rumah berbeda dalam kurun waktu itu. Putri dan putra kami pun lahir ketika kami tinggal di rumah kontrakan yang berbeda.</p>
<p>Saya pribadi tidak merasa terlalu terbebani dengan kondisi mengontrak, tetapi istri saya merasa akan lebih nyaman buat kami dan anak-anak bila bisa tinggal di rumah sendiri sehingga tidak harus berpindah-pindah setiap kali biaya kontrakan dinaikkan oleh si empunya kontrakan. Benar <em>sih</em>, tetapi saya sendiri belum punya uang yang cukup sampai istri saya mengandung anak ke-2.<em> Alhamdulillah</em>, setelah melakukan pinjaman lewat koperasi kantor akhirnya kami memiliki uang untuk membeli rumah <em>second</em> sederhana dengan kisaran harga di bawah 70 juta.</p>
<p>Sambil memroses pinjaman bank, kami mulai mencari-cari informasi  rumah yang dijual di bilangan Jakarta Selatan, Depok dan sekitarnya. Kami mencoba bertanya kepada teman, tetangga juga mencari di iklan baris koran Pos Kota. Pencarian kami berlangsung lebih dari 6 bulan, dengan target rumah yang kami survei lebih dari 5 lokasi berbeda. <em>Hhmm</em>, ternyata mencari rumah idaman tidak mudah ya. Saya sendiri berprinsip untuk tidak terburu-buru menentukan pilihan, karena berbagai faktor :</p>
<ol>
<li>Bagaimana dengan status tanah dan rumahnya? Apakah sudah SHM (sertifikat hak milik) atau status lain? Apakah milik tunggal ataukah bersama? Sengketa atau tidak?</li>
<li>Bagaimana dengan harganya? Apakah sesuai dengan luas tanah dan bangunannya? Apakah cukup dengan <em>budget</em> kami tentunya?</li>
<li>Bagaimana kondisi rumahnya? Apakah sesuai dengan kebutuhan kami, baik jumlah ruangan maupun sisi kesehatannya?</li>
<li>Bagaimana kondisi lingkungannya? Apakah rawan banjir atau tidak? Apakah termasuk lingkungan yang aman dan bersahabat? Apakah dekat dengan akses jalan dengan angkutan umum? Apakah dekat dengan masjid/musholla?</li>
</ol>
<p>Kira-kira empat hal itu yang selalu menjadi pertimbangan kami ketika melihat rumah yang kami survei. Pasti ada hal lain dalam diskusi saya dan istri, kadang hingga hal-hal yang mendetil. Syukurnya, kami berusaha untuk mencari dan menimbangnya secara bersama-sama sehingga bisa saling melengkapi dan mengoreksi.</p>
<p>Pada suatu ketika, setelah melihat 2 rumah di bilangan Lenteng Agung dan Depok Timur, kami sempatkan untuk menengok satu lokasi di bilangan Beji,  sembari pulang ke kontrakan kami di Ragunan. Waktu itu hampir Maghrib ketika kami sampai di lokasi yang ditunjukkan oleh iklan baris koran Pos Kota. Sebuah rumah yang sederhana, terkesan kurang sehat malah tetapi berbagai faktor di atas cukup memenuhi keinginan dan kebutuhan kami. Setelah melihat-lihat, mempertimbangkan secara singkat, bernegosiasi dengan pemilik rumah dan sholat Maghrib di musholla yang bersebelahan dengan rumah itu, akhirnya kami memutuskan untuk membeli rumah itu. <em>Bismillah</em> &#8230;</p>
<p><strong>Menjadikan rumah<em> second</em> menjadi rumah idaman</strong></p>
<p>Proses jual beli berjalan lancar. Melalui notaris yang menangani jual beli rumah itu sebelumnya, kami melakukan proses transaksinya. Membuat AJB (akta jual beli) dan balik nama Sertifikat, termasuk pembayaran dalam waktu kurang lebih satu bulan.</p>
<p>Agenda selanjutnya adalah melakukan perbaikan atau renovasi. Karena rumah yang kami beli kondisinya kurang sehat, kami melakukan beberapa perubahan agar kondisinya lebih nyaman buat kami dan anak-anak. Pekerjaan yang belum pernah saya tangani dan mau tidak mau harus saya jalani. Konsep saya buat, diskusi dengan istri, menghitung perkiraan biayanya kemudian memulai prosesnya dengan bantuan Kakak ipar untuk mendapatkan pemborongnya. Prosesnya agak lambat di awal karena si pemborong sedang mengerjakan proyek di tempat lain, sehingga akhirnya saya mengambil inisiatif untuk mengerjakannya dengan tukang harian karena pertimbangan waktu yang sudah <em>mepet</em> Lebaran. Persis H-1 Ramadhan 1430H, kami memulai pekerjaan renovasi terhadap rumah baru kami.</p>
<p><em>Subhanallah</em>, walaupun tidak mudah buat saya, pekerjaan renovasi berjalan sesuai yang kami harapkan. Berganti dengan tukang borongan yang dibawa Bapak mertua dari kampung, dua pekan menjelang Lebaran pekerjaan renovasi dipercepat hingga hampir selesai di H-5 Lebaran. Walaupun masih ada beberapa pekerjaan yang belum final saya hentikan pekerjaan karena saya sendiri harus mempersiapkan kepindahan dan sekaligus mengubah rumah kontrakan kami menjadi kelas untuk bimbingan belajar yang dikelola oleh istri saya.</p>
<p>Pekerjaannya seperti sederhana tapi biayanya ternyata tidak semurah yang kami perhitungkan. Untunglah ada Ibu, atasan di kantor, dan Kakak ipar yang bersedia memberikan bantuan dan pinjaman lunak untuk terselesaikannya pekerjaan ini. Walaupun masih ada pekerjaan yang belum sesuai rencana kami, namun kami tunda karena berbagai pertimbangan. Jadilah rumah idaman kami, tidak terlalu besar, tidak mewah, tidak indah tapi cukup nyaman. Satu lagi yang spesial, rumah kami menjadi serambi musholla.</p>
<p><strong>Menjadi warga baru<a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://deblogger.org/wp-content/uploads/2010/09/depok.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-954" title="depok" src="http://deblogger.org/wp-content/uploads/2010/09/depok-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</strong></p>
<p>Dulu ketika masih mengontrak, saya pribadi bukanlah orang yang pandai berbaur dengan masyarakat sekitar. Mungkin masih terbawa kebiasaan buruk ketika belum menikah, yang memang tidak terlalu menjadi masalah. Namun seiring bertambahnya usia, ketika saya sudah berkeluarga dan mempunyai anak-anak, kebiasaan buruk itupun mulai berubah. Walaupun tidak sepenuhnya berbaur, saya mulai membiasakan diri untuk menjadi bagian dari lingkungan tempat tinggal saya. Mengikuti kerja bakti di lingkungan atau tahlilan di rumah salah satu warga,  menghadiri arisan atau rapat warga RT. Selebihnya saya juga membiasakan diri untuk mengikuti sholat berjama&#8217;ah di masjid/musholla dan mengikuti kegiatannya seperti Yasinan, pengajian atau yang lain.</p>
<p>Sekarang, lebih dari satu tahun saya menempati rumah tinggal sendiri yang berarti saya adalah bagian dari warga mukim bukan pengontrak lagi. <em>Alhamdulillah</em>, saya sudah bisa menempatkan diri saya benar-benar menjadi bagian dari masyarakat tempat tinggal saya. Ya, saya sekarang adalah warga baru Kelurahan Beji. Bahkan sejak 20 Januari 2010, saya sudah mengganti KTP saya sebelumnya yang warga Jakarta Timur menjadi warga Depok. Saya sudah membuat KK (kartu keluarga) sendiri dan mulai memutasi berbagai surat penting saya dengan data yang baru. Beberapa surat penting yang saya mutasi ketika berpindah tempat tinggal adalah:</p>
<ol>
<li>KTP dan KK</li>
<li>Buku Tabungan atau Data Nasabah</li>
<li>Data Kepegawaian (terutama buat yang pegawai negeri) termasuk Askes atau Jamsostek</li>
<li>Surat-surat yang terkait dengan rumah baru : Sertifikat, Pelanggan Listrik/Telpon, PBB, dll.</li>
<li>NPWP, paspor dan surat penting terutama identitas lainnya.</li>
</ol>
<p>Urusan mutasi ini memang terkadang membuat kita repot, tetapi sebagai warga negara yang baik sudah sewajarnya kita melakukannya. Selain untuk tertib administrasi, kita juga tidak akan dirugikan ketika kita membutuhkan surat-surat tersebut karena kita sudah menyesuaikannya. Informasi tentang hal ini mestinya memang diberikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan sehingga kita sebagai warga mendapatkan apa yang semestinya dan tidak menjadi pihak yang dirugikan karena kelalaian sendiri.</p>
<p>Tidak semua orang peduli ketika menjadi warga baru suatu lingkungan, bahkan orang kaya sekalipun terkadang tidak mau untuk sekedar datang ke Ketua RT, melaporkan diri sebagai warga baru sekaligus mencari informasi atau mengurus administrasinya. Sebagian dari kita bahkan ketika sudah pindah tempat tinggal di rumah baru, masih menggunakan identitas tempat tinggal lama kita karena alasan ke-<em>ribet</em>-an pengurusan. Sungguh ironis memang, tapi bukan suatu yang dianggap tabu.</p>
<p><strong>Menjadi bagian dari masyarakat</strong></p>
<p>Menjadi warga baru adalah tahapan awal, menjadi bagian dari masyarakat adalah bagian intinya. Mulai dari yang sederhana seperti melapor ke RT hingga yang cukup rumit seperti menjadi pengurus arisan RT misalnya. Saya jalani seperti hal yang wajar, tetapi saya membatasi dari hal-hal yang berlebihan seperti nongkrong berlama-lama hanya untuk ngobrol di depan rumah tetangga atau sama sekali tidak pernah keluar ketika ada kerja bakti. Dua hal yang berbeda secara ekstrim.</p>
<p>Saya sendiri sadar, saya masih muda dalam hidup bermasyarakat. Masih sedikit pengalaman dibanding tetangga-tetangga yang sudah lama bermukim di lingkungan ini. Saya lama tinggal di Jakarta, dan tentunya Depok berbeda dengan Jakarta. Kultur masyarakat di lingkungan rumah saya tentu berbeda dengan lingkungan saya sebelumnya, terutama bila dilihat dari taraf ekonominya. Masyarakat di sini lebih banyak bermata pencaharian sebagai wirausaha seperti pedagang, tukang batu atau tukang ojek, sebagaian kecil pegawai baik negeri maupun swasta. Sehingga rata-rata ekonominya menengah ke bawah, sedikit sekali yang menengah ke atas. Walaupun demikian semua anak di sini sekolah, tidak ada yang putus sekolah atau menganggur di rumah. Sebagian besar istri menjadi ibu rumah tangga, walaupun ada juga yang bekerja atau berusaha di rumah. Sebagian besar muslim, mungkin hanya ada 2 keluarga non-muslim, walaupun demikian toleransi tetap terjaga.</p>
<p>Menjadi warga masyarakat Depok, khususnya Beji adalah perhatian saya setiap hari. Walaupun saya dan istri bekerja di Jakarta tapi kami tinggal di Depok. Anak kami pun sekolah di Depok dan mungkin sampai kuliah nanti akan tetap di Depok. Karenanya saya menganggap ini hal yang serius, dan setahun belakangan saya sekeluarga berusaha untuk menjadi warga baru yang sebaik-baiknya. Saya optimis secara bertahap kami sekeluarga akan memberikan kontribusi yang berharga minimal untuk warga di lingkungan kami dan semoga juga untuk masyarakat Beji dan Depok secara lebih luas, insya&#8217;Allah.</p>
<blockquote><p>Bagaimana dengan Anda, apakah sudah menjadi bagian dari masyarakat Depok yang sesungguhnya?</p></blockquote>
<p>==</p>
<p>Sumber gambar: <a href="http://eramuslim.com" target="_blank">Eramuslim</a> (added by admin)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deblogger.org/2010/09/23/menjadi-warga-baru-depok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MBAH WARDI, Secuil Cerita Tentang Kejujuran</title>
		<link>http://deblogger.org/2010/09/14/mbah-wardi-secuil-cerita-tentang-kejujuran/</link>
		<comments>http://deblogger.org/2010/09/14/mbah-wardi-secuil-cerita-tentang-kejujuran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Sep 2010 05:44:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko moernantyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[STORY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deblogger.org/?p=779</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;KEJUJURAN ITU Mahal dik!&#8221; Bener, bukan saya yang mengatakan hal itu. Ucapan itu mungkin buat kita yang biasa melihat banyak kemunafikan, banyak kebohongan dan banyak kebrengsekkan di depan kita [atau malah mungkin kita bagian dari hal itu?], jadi sesuatu yang klise dan numpang lewat saja. Tapi kalimat itu diucapkan dengan intonasi sederhana dari seorang penambal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://deblogger.org/wp-content/uploads/2010/08/tambal-ban.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-917" title="tambal ban" src="http://deblogger.org/wp-content/uploads/2010/08/tambal-ban.jpg" alt="" width="350" height="263" /></a><em>&#8220;KEJUJURAN ITU Mahal dik!&#8221;</em></p>
<p>Bener, bukan saya yang mengatakan hal itu. Ucapan itu mungkin buat kita yang biasa melihat banyak kemunafikan, banyak kebohongan dan banyak kebrengsekkan di depan kita [atau malah mungkin kita bagian dari hal itu?], jadi sesuatu yang klise dan numpang lewat saja. Tapi kalimat itu diucapkan dengan intonasi sederhana dari seorang penambal ban, bernama SOEWARDI.</p>
<p>Mbah Wardi &#8211;begitu biasa dia dipanggil&#8211; adalah seorang penambal ban di depan Roxy Mas. Aku ngobrol gara-gara ban motorku kena paku &#8216;<em>segede bagong&#8217;</em>. Kabarnya, memang disana banyak yang sering kena paku aneh-aneh. Ketika semua orang menunjuk tempat tambal bannya, aku sudah &#8220;berprasangka&#8221; pasti orang ini yang menyebar paku, biar tambal bannya laris.</p>
<p>Ketika menunggu, karena ada beberapa yang sedang ditambal, beberapa &#8216;pak ogah&#8217; nawarin aku untuk tambal ban di seberang jalan lain, karena menurut mereka lebih kosong dan bisa cepat dikerjakan. Tapi entah kenapa, aku memilih untuk menunggu antrean saja. Males jalan sih tepatnya&#8230;</p>
<p>Sembari menunggu, aku ngobrol dengan Mbah Wardi. Soalnya, yang nambal, lebih sering diberikan kepada &#8216;anak-buahnya&#8217; sementara Mbah Wardi mengawasi.</p>
<p>Mbah Wardi mengaku, lahir dan besar di Magelang Jawa Tengah, 70 tahun silam. Dengan bangga, Mbah Wardi menyebut dirinya adalah warga Lembah Tidar, julukan Kota Magelang. Tahun 1959-an, dia sudah merantau ke Jakarta dan mencoba peruntungan di banyak pekerjaan.</p>
<p><em>&#8220;Dulu Jakarta bagus mas. Nggak macet dan polusi kaya sekarang. Saya ngontrak di daearh Roxy cuma 350 rupiah perbulan ketika itu,&#8221;</em> katanya mulai mengorek masa lalunya. Sampai akhirnya tahun 1973, Mbah Wardi membuka usaha tambal band, di Roxy, tempat yang sampai sekarang ditempatinya.</p>
<p><em>&#8220;Saya sering diajarin untuk nyebar paku dik, tapi buat apa? Rejeki sudah ada yang ngatur kan,&#8221;</em> tegasnya. Mbah Wardi juga bercerita, dirinya pernah menemukan HP pelanggannya dan menyimpannya, sampai ketika esok harinya yang punya balik, HP itu dikembalikannya tanpa minta imbalan.<em> &#8220;Kejadian kaya gitu sering lo dik,</em>&#8221; tambahnya.<em> &#8220;Kejujuran itu sekarang mahal dik,&#8221; </em>tegasnya.</p>
<p>Puluhan tahun menjad penambal ban, membuat ayah dari 3 anak yang sudah mentas ini paham betul trik untuk &#8220;nakal&#8221; dan mencari peluang untuk nambahin recehan. <em>&#8220;Tapi kalau saya lakukan, mungkin hari itu saya dapat uang banyak, tapi besok-besok saya malah ditutup rejekinya to,&#8221; </em>ujarnya polos.</p>
<p>Mbah Wardi bercerita dengan wajar, santai dan hati-hati. Baginya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, jujur adalah nomor satu. <em>&#8220;Yang lain tidak jujur silakan, saya nggak mau ikut-ikutan dik,&#8221; </em>tandasnya.</p>
<p>Yah, mengapa harus ikut-ikutan brengsek, ketika yang lain jadi brengsek? Mengapa harus ikut-ikutan nakal? Mengapa harus jadi penipu ketika yang lain ramai-ramai jadi penipu? Mbah Wardi, <em>keukeuh</em> untuk jadi dirinya sendiri. Sederhana banget, dengan menjadi penambal band yang jujur&#8230;.</p>
<p><em>Dan [maafkan aku] aku sudah salah prasangka&#8230;..</em></p>
<p><em>===</em></p>
<p><em>Sumber gambar: <a href="http://rizky165.blogspot.com" target="_blank">rizky165</a> (added by web admin)<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deblogger.org/2010/09/14/mbah-wardi-secuil-cerita-tentang-kejujuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa, Kolak, Taraweh &amp; Selebrasi Maaf</title>
		<link>http://deblogger.org/2010/08/25/puasa-kolak-taraweh-selebrasi-maaf/</link>
		<comments>http://deblogger.org/2010/08/25/puasa-kolak-taraweh-selebrasi-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 09:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko moernantyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deblogger.org/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[JUJUR, ketika kecil dulu, saya adalah “pemuja” puasa. Bagaimana tidak, dalam kacamata kanak-kanak saya, ngariyung bersama teman menunggu waktu berbuka, adalah saat yang paling mengesankan. Belum lagi ketika bedug maghrib berbunyi, tajil beraneka ragam sudah menanti. Kami tertawa, ketika kemudian hidangan tadi tandas dalam sekejab. Bukan menahan lapar dan haus-nya memang, tapi momen berbuka itulah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://deblogger.org/wp-content/uploads/2010/08/selamat_puasa.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-803" title="selamat_puasa" src="http://deblogger.org/wp-content/uploads/2010/08/selamat_puasa-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>JUJUR, ketika kecil dulu, saya adalah “pemuja” puasa. Bagaimana tidak, dalam kacamata kanak-kanak saya, ngariyung bersama teman menunggu waktu berbuka, adalah saat yang paling mengesankan. Belum lagi ketika bedug maghrib berbunyi, tajil beraneka ragam sudah menanti. Kami tertawa, ketika kemudian hidangan tadi tandas dalam sekejab. Bukan menahan lapar dan haus-nya memang, tapi momen berbuka itulah yang selalu menarik.</p>
<p>Saya ingat, nyaris semua kawan saya selalu mengajak main ke rumahnya setiap hampir berbuka. Mereka tidak peduli, apakah saya berpuasa, pura-pura puasa, atau sebenarnya memang tidak puasa. Pokoknya kebersamaan itu begitu lekat. Dan saya pun dengan polosnya selalu menerima ajakan itu. Alhasil, setiap hari nyaris berkelling ke rumah kawan, untuk menikmati kolak, kacang ijo, es buah, korma, dan kemudian menyantap ayam goreng dengan nasinya.</p>
<p>Kemudian saya ‘nekat’ berangkat taraweh. Nekat, karena saya tidak pernah tahu doanya seperti apa. Nekat karena bukan pemilik sholat dalam segala bentuknya. Nekat, karena pasti akan muncul pertanyaan heran dari setiap orang yang kenal, “Loh kok kamu ke masjid juga?”</p>
<p>Oh iya, saya memang lahir bukan dari keluarga muslim. Tapi saya paham betul soal puasa, karena ayah saya sering puasa Senin – Kamis [yang sampai sekarang saya masih bingung, kenapa harus Senin dan Kamis, mengapa tidak Rabu – Minggu misalnya]. Mama saya juga seorang religius yang [ternyata] punya ritual berpuasa [dan hebatnya, dalam setahun bisa beberapa kali puasa selama 40 hari].</p>
<p>Kembali ke Taraweh tadi. Saya selalu memilih tempat paling belakang, karena bisa cepat pulang [dan bisa ngawasin sandal jepit yang nyaris semua sama bentuk dan warnanya, biar nggak ketukar]. Dan saya suka dengan keramaian masjid ketika taraweh. Hidup sekali. Tapi sekali lagi saya bilang, saya tidak tahu arti apapun dari bahasa Arab-nya. Tapi cuek saja, karena pemahaman saya ketika itu, mosok ya Tuhan nggak ngerrti kalau saya pakai bahasa Indonesia.</p>
<p>Kolak juga menu “wajib” ketika Ramadhan. Entah sejak kapan kolak menempati tempat ‘terhormat’ ini, tapi saya juga menikmatinya. Yah, kalau tidak Ramadhan, agak sulit juga menemukan menu manis yang satu ini.</p>
<p>Sampai akhirnya muncul sebuah pertanyaan, sejatinya siapa pemilik puasa ini? Apakah puasa ini hanya milik golongan, ras, atau agama tertentu? Ternyata tidak. Puasa ada di semua kepercayaan dan agama yang ada di muka bumi ini. Masing-masing dengan itikad, penjelasan, dan hakikat yang berbeda. Sama-sama menyenangkan, karena tujuannya juga bagus semua kok.</p>
<p>Hal lain yang mengiringi awal puasa adalah maaf-maafan. Yah, saya sih melihatnya banyak yang hanya selebrasi saja sih. Persoalan tulus atau tidak, bukan urusan saya. Selebrasi maaf ini makin kesini makin dominan. Hmm, ya tidak salah juga. Karena setiap ucapan maaf yang keluar menjadi harapan untuk menjalan ibadah dengan lebih tenang, bersih dan ikhlas. Terlepas itu diucapkan dengan tulus atau basa-basi.</p>
<p>Saya kembali merindukan puasa pluralis masa kecil dulu….</p>
<p><em>*selamat berpuasa, selamat taraweh, selamat menikmati kolak dan menemukan [ketulusan] selebrasi maaf tahunan<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deblogger.org/2010/08/25/puasa-kolak-taraweh-selebrasi-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dia Yang Begitu Peduli</title>
		<link>http://deblogger.org/2010/03/25/dia-yang-begitu-peduli/</link>
		<comments>http://deblogger.org/2010/03/25/dia-yang-begitu-peduli/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 07:30:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gajah_pesing</dc:creator>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deblogger.org/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu, Madinah senyap, hawa dingin menusuk tulang. Namun sesosok bayangan itu terus mengenda-endap berjalan keluar dari rumah sederhanya. Masih seperti malam kemarin, ia kembali menyusuri jalan tanpa seorang pun. Rumah demi rumah, kampung demi kampung ia amati dengan cermat, memastikan tiada bahaya. Sungguh hampir setiap malam tak dapat ia pejamkan mata sebelum yakin bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="shortcode-show-avatar" style="float: right; margin-left: 10px;"><img alt='' src='http://0.gravatar.com/avatar/42c2c5742e83f61207e7df986e738ace?s=96&amp;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G' class='avatar avatar-96 photo' height='96' width='96' /></div>Malam itu, Madinah senyap, hawa dingin menusuk tulang. Namun sesosok bayangan itu terus mengenda-endap berjalan keluar dari rumah sederhanya. Masih seperti malam kemarin, ia kembali menyusuri jalan tanpa seorang pun. Rumah demi rumah, kampung demi kampung ia amati dengan cermat, memastikan tiada bahaya. Sungguh hampir setiap malam tak dapat ia pejamkan mata sebelum yakin bahwa kotanya baik-baik saja. Tidak akan pernah rela, ia berselimut dalam rumahnya tanpa kepastian diluar sana tidak ada malapetaka.<span id="more-478"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Madinah telah usai ia susuri, malam hampir di puncak, namun ia masih terus berjalan. Letih tergambar jelas dalam desah nafasnya. Sesekali ia labuhkan pandangan ke langit Madinah yang bertabur manik-manik cahaya. Sesungging syukur ia bisikkan pada Sang Pencipta atas nikmat yang ia dapati hari itu. Tanpa terasa, Madinah sudah jauh ia tinggalkan dan langkahnya jauh hingga keluar kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat kemudian, ia terhenti demi dilihatnya seorang lelaki duduk sendirian menghadap sebuah pelita.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Assalamu&#8217;alaikum wahai Fulan&#8230;&#8221; sapanya santun.<br />
&#8220;Apa yang engkau kerjakan malam-malam begini sendirian?&#8221; tambahnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Namun pemilik tenda tersebut tidak jadi menjawab ketika dari dalam tendanya, suara perempuan mengaduh memanggilnya. Terbata-bata ia memberitahu bahwa istrinya akan melahirkan, sedangkan tiada sanak saudara yang dapat diminta pertolongannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.shareapic.net/View-20502882-blog.html" target="_blank"><img class="alignleft" style="margin: 1px;" src="http://preview.shareapic.net/preview6/020502882.jpg" alt="" width="130" /></a>Berlari sekuat tenaga, ia pun pergi meninggalkan lelaki di depan pelita. Secepatnya ia menuju rumah sederhana-nya di jantung kota. Letih mendera, namun ia terus saja berlari. Dengan alas kaki yang tipis dan penuh lubang dimakan usia, terasa jelas ia rasakan perihnya batu-batu yang dipaijaknya sepanjang jalan, namun ia terus berlari.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<strong>Ummu Kultsum</strong>, bangunlah! Ada kebaikan menanti kita malam ini&#8221;, dengan nafas tersengal ia bangunkan istrinya. Allah SWT yang menjadi saksi, bagaimana mereka berdua kini berlari membelah malam, menuju tenda dimana seorang lelaki sendirian menunggu istrinya melahirkan. <strong>Ummu Kultsum</strong> segera membantu persalinan dan tak berapa lama kemudian, tangis bayi membahana memecah kesunyian malam. Lelaki pemilik tenda itu pun bersujud mencium tanah, kemudian menghampirinya sambil berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Siapakah engkau, yang begitu mulia menolong kami?&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Lelaki itu tidak perlu menunggu lama menanti akan sebuah jawaban, karena hampir bersamaan suara Ummu Kaltsum memecah lenggang udara,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wahai Amirul Mukminin, ucapkanlah kepada tuan rumah, telah lahir seorang anak laki-laki yang gagah.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kawan, terpesona penulis mengenang kisah indah <strong>Khalifah Umar bin Khatab</strong>. Meskipun seorang <a title="Pemimpin Ideal" href="http://gajahpesing.web.id/blog/pemimpin-ideal/" target="_blank">pemimpin</a> negara, namun sejarah mengabadikan kesehariannya sebagai seorang yang sederhana tanpa gemilang harta. Ia orang yang amat berkuasa, namun kisah hidupnya begitu dipenuhi dengan kerja keras mengayomi seluruh rakyatnya. Ia adalah orang nomor satu, tapi siang dan malamnya jarang dilalui dengan pengawal. Dialah yang sanggup berlari tanpa henti, demi menolong seorang perempuan yang akan melahirkan dan bahkan tak dikenalnya sendiri, tak dikenal latar belakang agamanya, suku atau pun nasabnya. Ia melakukannya..</p>
<p style="text-align: justify;">nb: cerita ini aku dengarkan dari Guru Ngaji-ku.</p>
..:: gajahpesing® is the wong ganteng ::..]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deblogger.org/2010/03/25/dia-yang-begitu-peduli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

